Pages

Kamis, 15 November 2012

Kisah Hikmah: Pohon Apel

Bagi yang sudah pernah membaca kisah ini, aku hanya ingin mengingatkan kembali. Bagi yang belum semoga dapat mengambil ibrah atau manfaatnya. Selamat membaca. :)

                                                                            ***

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.

“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi.” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut,
“Duh, maaf aku pun tak punya uang ……. tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi.” kata pohon apel.

“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu.” kata pohon apel.

Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.
Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi denganku.” kata pohon apel.

“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.
“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar ?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf, anakku,” kata pohon apel itu.

“Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat.” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu.” Jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang.” Kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua
adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang manusia. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara manusia memperlakukan orang tua.
                                                                             ***
"Ya Alloh ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, serta kasihilah mereka berdua seperti mereka mengasihiku sewaktu kecil." Amin...
Sejenak saja renungi... Sudahkah selama ini kita selalu ada untuk Ayah dan Ibu? Sudahkah kita selalu mematuhi perintah mereka? Sudahkah kita menyadari bahwa merekalah harta paling berharga? :') Jika belum... mari mulai detik ini kita bahagiakan mereka... kita banggakan mereka... jangan kecewakan mereka... Apa susahnya mematuhi orang tua selama itu dalam hal kebaikan? :') Sungguh, jangan biarkan penyesalan itu datang ketika mereka sudah tak ada lagi sedangkan bakti kita belum ada apa-apanya... :')
Jangan... jangan sampai ada penyesalan :') Lakukan bakti itu selagi kita masih ada waktu! :'D
Ya Alloh... Jagalah perkataan dan perbuatan kami yang dapat melukai perasaan Ayah dan Ibu kami...
Ya Robb... Jagalah harta paling berharga kami agar selalu dalam payungan lindungan-Mu...
Ya Alloh... Berikan kami kesempatan yang lebih panjang agar kami dapat membahagiakan dan membanggakan Ayah dan Ibu kami...
Ya Robb... Ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku... :')
"Ketika melihat senyum dan tawa kedua-orangtua kita, maka kebahagiaan sejati itu ada." :')))
Sama ayah :'*

Sama ibu :'*

Rabu, 14 November 2012

Welcome 1st Muharam 1434 H♥

Assalamu'alaikum...

Tak terasa. 1434 H sudah di depan mata. Itu artinya.... tahun baru bagi umat muslim. Apa yang akan kulakukan? Aku hanya ingin semuanya berjalan semakin baik. Semuanya.... :) Untuk melakukan perubahan, tidak harus dimulai esok hari. Tetapi, bisa dilakukan kapan saja. Semoga aku menjadi salah satu yang mampu melakukan perubahan-perubahan super. :') Amin♥

Singkat saja. Akhir kata : semoga semoga semoga dan semoga selalu dalam ridha-Nya.

---------SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1434 HIJRIAH---------

Wassalamu'alaikum.




Sabtu, 10 November 2012

Aku Ini Kecil




Seperti semut. Tak ada apa-apanya dibandingkan manusia lainnya...

Bukan secara fisik. Bukan... Siapapun yang pernah melihatku pasti akan mengatakan bahwa tubuhku terbilang cukup berisi. Ya. tidak terlalu gendut, tidak juga terlalu kurus. Apa ini? Abaikan saja.

Aku melihat ke atas, ke bawah. Seberapa pentingkah, seberapa manfaatkah diriku ini? Hatiku bergetar. Aku malu. Ketika aku menyadari aku bukanlah siapa-siapa... Aku teringat ketika terkadang aku berpikir "Ah aku kan yang paling bisa." Semua itu omong kosong. Kudongakkan kepalaku ke atas. Bukan. Bukan untuk menyombongkan diri. Tetapi untuk melihat, mengakui bahwa masih ada langit di atas langit. Dan akan seterusnya seperti itu. Yang paling hebat hanyalah Allah. Tidak ada yang berada di atas-Nya.

Tetapi ketika aku melihat ke bawah, aku sangat pantas bersyukur, dan harus memperbaiki diri ini. Kenapa? Kenapa aku harus memperbaiki diri? Karena ketika aku melihat ke bawah, orang-orang yang kurang beruntung selalu bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Walaupun terbilang jauh dari kata "Cukup". Betapa... betapa mirisnya hatiku. Miris melihat mereka sekaligus miris melihat diriku sendiri. Hinanya diriku jika terus mengeluhkan ini-itu.

Aku memang bukan siapa-siapa... Aku ini hitam, kecil. Tetapi tidak selamanya aku menginginkan menjadi semut. Menjadi debu yang tidak berguna. Saat ini... besok... selamanya... aku ingin bermanfaat untuk orang lain. Untuk orang tua, keluarga, sahabat, teman, dan... khalayak yang membutuhkan. :')

Karena, sebaik-baiknya manusia ialah yang bermanfaat untuk orang lain.

Hari Pahlawan: Ketika Seorang Guru Mengubah Jalan Pikiranku

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa? Seringkali kita mendengarkan kalimat itu. Tak usah kita mencarinya hingga meloncat ke zaman dahulu kala mengenai pahlawan-pahlwan nasional. Cukup kita sadari bahwa pahlawan tanpa tanda saja ada di sekitar kita. Guru. Ya. Guru-guru kita. Izinkan jemariku berkisah... mengungkapkan...

Suatu sore... ketika gerimis itu mengguyur Kota Susu, pahlawan itu datang. Membawa sejuta ilmu untuk diberikannya padaku dan teman-teman lain. Sore itu aku ada les matematika. Iya, matematika. Mata pelajaran menyeramkan bagi sebagian orang. Mungkin karena mereka sudah menutup mata dan hati terlebih dahulu sebelum mengenal matematika. Sama sepertiku. Dulu. Sampai pada hari itu. Saat aku les matematika. Saat aku membuka buku les, Beliau berkata "Nduk, gimana mau bisa matematika kalau catatan saja berantakan seperti itu? Coret-coretan di sini, jawaban di sini, bagaimana mau bisa?" Jleb. Kata-kata itu sungguh mengena di hatiku.

Entah kenapa, esok-esok hari setelahnya, tanpa kusadari aku semakin rapi dalam mencatat pelajaran matematika. Tidak-ada coret-coretan di sana sini. Semuanya rapi, bersih, runtut... Jauh sangat rapi dibandingkan sebelumnya. Dan perasaanku terhadap matematika... aku menyukainya. Wow.  Menyukai matematika? Tak pernah terpikirkan sebelumnya. Tetapi Beliau Pak Guru Matematika, mengajarkankanku secara tidak langsung untuk menyukai matematika dan tidak pernah merasa terbebani oleh matematika.

Mungkin sebagian orang ada yang menyukai matematika karena memang dia suka dan tidak ada perantara yang membuatnya suka. Tetapi tidak untukku. Aku baru menyukainya sejak seragamku biru-putih. Aku baru mengenalnya melalui Pak Guru matematika SMP-ku. Karena tanpa beliau mungkin saat ini aku sudah tak ingin menyentuh angka-angka abstrak yang hanya mencari x, y, z, logaritma, persamaan lingkaran, trigonometri yang --bagi tidak menyukainya-- akan terasa sangat membosankan. Proses menyukainya tak cukup hanya 1-2 hari saja. Sampai saat ini aku terbilang cukup bisa matematika adalah proses yang cukup lama pula. Dan itulah sebuah proses. Aku sangat menyukai, menikmati, dan menghargai sebuah proses dalam suatu kehidupan. Ada pula yang memang sudah sejak lahir pintar matematika atau apalah. Tetapi mungkin mereka tak pernah merasakan susahnya menyukai matematika dan tak pernah bisa merasakan bahagia ketika bisa menjawab 1 soal matematika. :)

"Aku memang belum pintar matematika, tetapi aku menyukainya dan selalu berusaha untuk mampu menaklukan setiap soalnya."

Terima kasih Pak Kusnan, Guru Matematika kesayanganku sepanjang masa... :')
 

Ah Pak Kusnan, aku rindu "tulisan indah"mu yang sengaja dibuat tidak indah agar murid-muridmu mau berpikir. Aku rindu ketika Engkau mampu memposisikan diri sebagai seorang sahabat untuk setiap murid-muridmu. Aku rindu pula ketika Engkau mengusap kepalaku. Aku rindu saat Engkau menegurku karena kekurang-telitianku.Aku rindu canda tawa ketika bersamamu. Aku rindu ketika aku berkunjung ke SMP untuk menanyakan sebuah soal yang sebenarnya mudah dan Engkau berkata,"Oalah nduk, soale gampange koyo ngene. Padune kangen to..." Haha. Pak Kusnan selalu tau isi hatiku. Tetapi sebagai seorang wanita aku tetap mengelaknya walaupun hati berkata iya.Sampai sekarang aku berseragam abu-putih, sampai nanti mahasiswa, sampai nanti aku sudah berkeluarga, Engkau akan tetap terkenang di dalam lubuk hati paling dalam, Pak....:')


Dengan embun di sudut mata, Farah Nadia Karima.

Rabu, 07 November 2012

Pemulung Adalah Pahlawan Lingkungan Hidup

Pemulung adalah pahlawan lingkungan hidup dan itu benar. Pemulung sampah di sekitar kita, yang hampir tanpa kenal lelah dan bosan terus memunguti sampah setiap harinya. Sampah di sekitar kita, berupa sampah plastik, kardus bekas makanan, botol air mineral, kertas koran yang tidak lagi berguna, bekas - bekas besi yang tidak mudah di cerna oleh udara dan tanah dan aneka sampah lainnya yang mungkin bagi pemulung sangat berguna sekali guna menyambung hidupnya dan keluarga mereka.

Pekerjaan mereka tentunya ikut membersihkan "Lingkungan Dari Sekitar Tempat Tinggal Maupun Tempat Beraktivitas Kita". Betapa mulianya pekerjaan mereka, tak mengenal, panas, hujan maupun angin. melihat pekerjaan mereka, apakah kita Peduli terhadap Pemulung? Secara jujur banyak yang tidak peduli, dan pernyataan kasarnya adalah, selama mereka dapat uang, silahkan lakukan memulung sampah!

Bahkan banyak tempat disekitar kita yang memasang tanda larangan bagi pemulung, dengan banyak alasan. Antara lain, curiga apabila salah satu dari pemulung akan mencuri barang - barang kita yang masih berguna. Selama kita mampu menjaga barang kita, mengapa takut dan curiga?


Ini satu ajakan dari sisi kemanusiaan, mari mulai peduli dengan pemulung yang adalah pahlawan lingkungan hidup dengan cara sederhana. Kumpulkan barang - barang kita, semisal botol air mineral, plastik, kardus bekas makanan dll dalam satu wadah, kemudian apabila ada pemulung datang, serahkan kepada mereka untuk di daur ulang di tempat yang semestinya.

Dengan metode tersebut, maka kita sendiri telah peduli lingkungan agar lingkungan kita menjadi bersih. Dan juga kita telah menolong meringankan beban para pemulung dalam mengais rejeki dari mengumpulkan sampah. Itu akan bernilai ibadah bagi kita.


Pemulung adalah pahlawan lingkungan hidup, mari kita sedikit peduli dengan mereka dan menghargai apa yang mereka lakukan bagi lingkungan ini. Dan bayangkan sejenak apabila tidak ada seorang pun mau melakukan pekerjaan sebagai pemulung. Apa yang terjadi dengan sampah kita? Apa yang terjadi dengan lingkungan kita?

http://www.belantaraindonesia.org/2011/10/pemulung-adalah-pahlawan-lingkungan.html

Sabtu, 03 November 2012

Ketika Keadaan Tak Sesuai Harapan

Seringkali kita dihadapkan pada keadaan yang berkebalikan dari apa yang kita inginkan. Contoh sederhananya: Saat kita yang sudah berharap tinggi dengan nilai yang memuaskan, tetapi kenyataan yang ada justru kita harus remid. Dan saat kita benar-benar ingin melupakan seseorang tetapi rasa itu tak kunjung menguap. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus mengeluh terhadap keadaan? Mengeluh agar keadaan dapat berubah? Tidak demikian. Seberapa besar keluhanmu tetap tak akan mengubah keadaan. Bahkan, justru akan semakin semrawut. 

Saat ini pun, aku sedang berada di titik yang sebenarnya sangat tidak aku inginkan terjadi. Tetapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa terus berusaha berdoa. Mengeluh? Kata itu sedang kuhapus jauh-jauh dari kamus kehidupanku. Allah tidak menyukai orang-orang yang mengeluhkan keadaan. Yang mengeluhkan takdir-Nya. Memang sulit sekali berada pada keadaan ini. Tetapi Allah Maha Baik. Selalu mengirimkan hamba-hamba super-Nya untuk senantiasa memberiku motivasi. Allah lebih tau apa yang kita butuhkan. BUKAN apa yang kita INGINKAN.

Ya... memang sulit untuk ikhlas menerima keadaan yang tidak kita inginkan. Semua butuh proses. Dan nikmatilah sebuah proses yang terjadi dalam hidupmu. Sedikit demi sedikit, pasti bisa. Ambil hikmah dari setiap keadaan yang terjadi. Seperti masalah nilai tadi, secara tidak langsung kita disuruh untuk lebih giat lagi. Untuk lebih belajar maksimal. Dan untuk masalah melupakan tadi, kita disuruh untuk ikhlas menerima perasaan yang sejatinya diberikan oleh Allah. Tanamkan niatmu untuk selalu menerima keadaan hingga mengakar dalam hatimu. Jika kita terjebak dalam keadaan seperti itu --keadaan yang tidak kita harapkan-- apa yang akan kita lakukan?

  • Tersenyumlah terhadap keadaan
  • Bisikkan hatimu, "ikhlas... ikhlas...ikhlas"
  • Ambil hikmah dari setiap keadaan
  • Ubah! Ubah keadaan itu sehingga akan terasa lebih menyenangkan
Tetap tersenyumlah kawan. Bagaimanapun keadaannya. :)


Semoga bermanfaat.

Farah Nadia Karima

Cerpen: Siapakah Senjaku?


Rumah  kosong.  Ya… sudah tak heran lagi. Semenjak pindah ke Ibukota dua tahun yang lalu, ayah dan ibu lebih sering pulang larut malam. Tak begitu kuhiraukan keadaan rumah yang sunyi senyap. Tanpa ba-bi-bu lagi kurebahkan tubuhku membentuk pesawat terbang di kasur tercinta. Lelah hati lelah pikiran setelah seharian berjibaku dengan guru-guru yang… ergh… killer. Belum lagi buku-buku yang super duper tebalnya. Kulihat jam tangan yang masih melekat di tangan kananku dengan malas. Oh ternyata sudah senja… hei, sudah kelewat senja malah! Aku bergegas berlari terbirit-birit menuju teras depan rumah kecilku. Celingak celinguk. Melihat sana melihat sini. Di atas meja kosong. Di bawah kursi juga tak ada apa-apa. Kecewa. Kenapa tak ada apapun? Kuseret langkahku gontai kembali ke kamar. Membersihkan diri. Menanti senja tergantikan oleh malam.
            Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ayah, Ibu? Kenapa kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan kalian? Tidakkah kalian merasakan sepi seperti yang Qila rasakan? Tubuhku sudah seperti daun yang berguguran di jalanan. Lemas. Entah, malam ini aku sungguh tak bersemangat. Menyentuh novel-novel kesayanganku saja malas sekali. Terlebih buku pelajaran yang… ergh
            Malam ini aku hanya duduk melamun di dekat jendela. Memandang langit malam yang cerah. Bintang-bintang dan bulan yang tak pernah lelah memancarkan keindahannya. Sepoi-sepoi angin yang tanpa malu-malu membelai lembut kerudung putihku. Aku memang sengaja membuka jendela lebar-lebar. Menikmati pesona indah malam hari. Aku tersenyum simpul. Refleks. Mengingat seseorang… ah. Seseorang yang mengenalkanku pada indah malam. Sudah sudah. Segera kuhapus bayang-bayang itu. Aku tak mau mengingat apa yang tak sepantasnya kuingat lagi.
            Aku tak peduli ayah dan ibu sudah pulang atau belum. Yang kuketahui sekarang hanyalah… mataku sudah tak mampu terjaga lagi.

***
            Segenap semangat telah kukumpulkan untuk hari ini. Menghadapi jam-jam seperti penjara yang selalu memaksaku membaca buku pelajaran dan mengerjakan soal-soal yang kalau ditotal jumlahnya bisa mencapai ratusan. Yah… beginilah nasib seorang pelajar kelas 3 SMA. Hadapi dan nikmati saja.
            Sehari pun cepat sekali berlalu.
Senja sudah mulai datang rupanya. Siluet jingga sudah menghiasi langit. Tak lama lagi langkahku akan sampai di rerumpun halaman rumah. Ah, ini senja! Kulangkahkan kaki lebih cepat lagi. Berhenti di teras rumah. Dan... Ada! secarik kertas putih sederhana itu ada! Refleks. Aku tersenyum. Inilah yang akhir-akhir ini membuatku semakin rindu bertemu senja. Surat kecil sederhana. Putih polos. Tapi entah kenapa aku suka sekali dengan kata-kata yang ada di dalamnya. Ini sudah surat ke-3 setelah kemarin surat itu meliburkan diri. Kubuka pelan pelan… pelan sekali.


    Kaulah yang selalu mewarnai senjaku
               Jingga seolah menjadi merah, kuning, hijau, biru
                         Seperti pelangi yang ada dimatamu
                         Selalu membuatku semakin merindu                                                  
                Aku tersenyum simpul. Meski aku tak tau siapa pengirimnya, surat ini cukup membuatku senang. Membuat pipiku merah merona. Siapa ya? Hmm… Apakah dia? Ya dia.  Seseorang yang selalu mengajarkanku tentang keindahan. Keindahan senja dan malam. Yang membuatku mencintai siluet jingga ketika senja datang dan binar indah bintang bulan ketika senja sudah tergantikan oleh malam. Tapi, setahuku tak banyak yang mengetahui alamat rumahku yang baru. Teman-teman sekolah pun hanya beberapa saja yang aku beritahu. Ah tidak mungkin. Aku juga tak ingin berharap terlalu tinggi kepada orang yang jelas-jelas telah mengukir luka di hatiku. Sudahlah, surat-surat ini cukup menjadi koleksiku saja.
***
                Hari ke hari... Senja ke senja. Surat itu semakin rajin menghiasi teras rumah. Tetap putih, polos, dan rangkaian kata. Sesederhana itu. Tapi justru kesederhanaan itulah yang mampu membuatku tersenyum refleks. Tanpa kusadari.
Sampai tiba pada surat yang ke-10. Kubuka. Kali ini dengan tidak sabaran.

                      Qila…
                                 Takkah kau sadari?
                                 Diriku selalu hadir menemani senjamu
                                 Tetapi… percuma.
                                 Kau tak akan mau mengerti lagi


Hei! Ia menyebut namaku! dan kalimat “Kau tak akan mau mengerti lagi” seperti ada sesuatu yang ganjil dalam makna yang tersirat. “Lagi”. Hmm… seperti aku pernah bertemu sebelumnya. Siapa? Siapa sebenarnya? Batinku tak kunjung berhenti bertanya-tanya. Aku tak mampu menahan rasa ingin tahu yang semakin membuncah. Selama ini aku hanya membiarkan surat itu ada. Tanpa ingin tahu siapa yang mengantarnya. Siapa penulis sesungguhnya. Besok. Tepat surat ke-11. Aku harus tahu siapa penulis surat itu.
***
Hari minggu senja. Aku sengaja tak banyak keluar rumah. Melamun menanti sore menjemput senja. Menanti langit dan awan hingga berwarna jingga. Menanti… menanti… penulis surat itu datang. Berkali-kali kutengok jendela terasku. Tak ada… kring! Kring! Aku bergegas keluar rumah.
“Mbak, ada paket buat Pak Darsono.” Kata Pak Pos.
Ergh… ternyata paket buat Ayah. Kecewa berat.
“Oh iya, Pak. Terima kasih banyak.” Aku mengulum senyum. Terpaksa.
Aku kembali lagi ke dalam rumah. Bersenandung kecil... dan… srek…srek… suara apa lagi itu? Pelan-pelan kubuka pintu. dan… APA? Apa mataku salah melihat? Tidak. Tidak. Itu memang lelaki yang sudah tega sekali melukai hatiku dua tahun lalu. Tepat sebelum aku berangkat ke kota yang kuinjakkan sekarang.
“Qila….” Pemuda itu menyapaku lembut. Sangat lembut. Aku tak kuasa menatap matanya. Aku sadar aku sangat ingin melupakannya. Aku sadar aku sangat ingin membencinya. Tapi ada sebulir rindu yang meluluh-lantakkan semuanya. Aku mengusap sudut-sudut mataku. Entah ini perasaan luka yang masih menganga ataukah perasaan rindu yang kian membuncah.
“Kenapa…kenapa kau ada di sini? Apakah kau penulis surat di setiap senjaku?” bibirku bergetar ketika kulontarkan pertanyaan itu. Pemuda itu hanya diam. Tersenyum kecil. Dan mengulurkan sebuah surat yang “sama”. Kali ini agak panjang… dan sepertinya sebuah cerita.

Qila…
Tak bisakah kau beriku satu kesempatan lagi? Seperti senja yang bersedia memberikan waktu untuk malam.
Bukan… bukan seperti yang kau lihat dua tahun lalu. Kau salah… tak pernah hati ini mempunyai ruang baru untuk orang lain. Kau tahu? Ia adalah adikku yang bertahun-tahun merajut ilmu di asrama di kota nun jauh di sana. Wajar… wajar bila kudekap erat adikku satu-satunya. Tepat ketika kau ingin berpamitan denganku. Aku tak dapat mengejarmu. Kau sudah tak terlihat di pelupuk mata.
Selama dua tahun aku mencari-cari di manakah sosok Qila. Aku rindu pelangi di matanya. Hingga akhirnya kumampu mengirim rangkaian kata di setiap senjamu.

Raka.

Ah Raka… Kenapa baru sekarang kau tulis namamu di setiap suratmu? Hanya linangan air mata yang mampu melukiskan isi hatikuAku menatap pemuda di hadapanku. Raka… maafkan aku. Aku menyesal tak mau mendengar penjelasanmu dulu. Hingga selama dua tahun ini… aku membencimu. Yang ternyata adalah sebuah kesalahan besar. Raka tersenyum tulus. Mengangguk kecil. Berkali-kali. Seperti mengerti apa yang ada dalam pikiranku. Dalam hatiku…
            “Aku sekarang di sini. Nyata ada di setiap senjamu. Percayalah…” Raka sekali lagi tersenyum. Tulus sekali…
            Terima kasih, Raka…



Farah Nadia Karima, 2012.

#PuisiSenja

Siapa sih yang nggak punya twitter?

Nah... kalian kalian kalian yang ingin melihaikan ide dan tangan kalian menjadi rangkaian kata yang indah, mari follow @KlubBuku! Sedikit banyak insya Alloh akan menyalurkan tulisan kalian sehingga bisa dibaca #SahabatKlubBuku lainnya.

Waktu yang paliiiiing aku suka itu ya jam 17.00 - 18.00. Itu waktu #PuisiSenja dibuka. Tweet-tweet yang berisi tulisan-tulisan masyarakat sampai menumpuk! Bagus-bagus pula. :) sebenernya ada juga #Bait2Malam. Tapi dibuka jam 22.00 - 23.00. Udah tidur kalo jam segitu. Jadi cuma sekali-duakali aja bisa nyumbang tulisan. Hehe

Kebetulan. Aku selalu ngepost di blog ini setiap tulisan yang aku buat di setiap senja. Silahkan buka Pojok Senja! :D

Terima kasiiiiiih :)))

Words for NEWVEMBER ^^

Halo bloggers... yang insya Alloh selalu diberkahi Alloh.

November telah datang. What's your #NovemberWishes? Pasti banyak yaaa. Kalau aku cuma satu aja. I've better life. Just it. No more. Simpel kan? "Better" menurut aku sudah mencakup semuanya. Setiap insan pasti ingin dirinya menjadi lebih lebih lebih baik lagi.

Nah... November tak akan kusambut dengan luka. Aku ingin tersenyum seperti senja yang tak pernah lelah tersenyum menyambut malam tiba. Walau hati terluka, tetapi senyum akan selalu ada...

Semangat semuanyaaaaaa. :)))