Pages

Kamis, 22 Januari 2015

MOVING

Assalamu`alaykum.

Aku mau ngasih pengumuman nih. Sudah sejak beberapa hari yang lalu, aku memutuskan untuk tidak menulis lagi di blog ini. Aku sudah berhijrah ke blog baru! Ini Blog Baru :D. Feel free to walk on my blog! InsyaAllah akan lebih update dengan tulisan-tulisan baru. Bismillaah. Doakan istiqomah ya, Guys.

Wassalamu`alaykum.


Senin, 07 Juli 2014

Kok Alhamdulillah?



            Akhirnya pagi tadi kuinjakkan kembali kakiku ke (mantan) sekolahku tercinta. Meski belum genap dua bulan aku resmi tak menyandang status sebagai siswa SMA N 1 Boyolali, sejujurnya aku merindukan seluruh kenangan di dalamnya. Namun, memang seharusnya aku tak berlama-lama di sana, tentu untuk merajut asa yang jauh lebih tinggi.

Bukan tanpa alasan tadi pagi aku datang ke SMA N 1 Boyolali.  Kemarin malam, ada broadcast masuk dari salah seorang teman melalui  grup kelas di media chat whatsapp, mengabarkan bahwa hari ini seluruh siswa diharapkan datang ke sekolah untuk melakukan cap tiga jari ijazah. Alhasil, kuputuskan untuk mematuhi pesan itu, meskipun kenyataannya ijazahku masih harus ditangguhkan karena terjadi kesalahan pada penulisan nomor ujian. Yaa...tak mengapa. Itung-itung ketemu temen dan sejenak melepas penat.           

Saat aku sedang ngobrol dengan teman-teman, ada salah seorang teman yang lain datang menghampiri dan menyapaku sembari bertanya,
“Sekarang dapet sekolah di mana, Rah?”
 “Alhamdulillah belum dapet.” Jawabku sembari tersenyum.
Kok Alhamdulillah?”
“Ya pasti Allah punya rencana lain yang lebih baik.” Jawabku lagi, masih tersenyum.
“Iya..bener, rah.”
            Percakapan itu kembali mengharuskanku untuk berlapang dada atas takdir yang Allah berikan kepadaku.
Jika aku merasa tak punya Allah, sudah hilanglah semangatku melihat mereka, teman-temanku, sudah lebih dulu mendapatkan bangku di PTN...

Jika aku merasa tak punya Allah, sudah habislah kebaikanku dimakan api iri & dengki...

Jika aku merasa tak punya Allah, apakah aku mampu menegakkan langkah, bangkit kembali dari kegagalan yang kualami...

Jika aku merasa tak punya Allah, apakah aku mampu berbaik sangka atas semua kejadian yang menyesakkan dada ini...

Sayangnya... Aku punya Allah,

Dia jauh lebih dekat dari urat nadi,

Dia satu-satunya yang takkan pernah salah menempatkan hamba-Nya di suatu keadaan,

hanya Dia yang paling mengerti kemampuan hamba-Nya,

hanya Dia yang tahu apa yang hamba-Nya butuhkan,

dan HANYA DIA penulis skenario kehidupan terbaik!

Aku hanya peraga yang mampunya berusaha dan berdoa, lalu bertawakal. Hanya itu saja.

            Aku percaya. Sangat percaya bahwa Allah mempunyai misi besar di balik semua ini. Mungkin saat ini aku belum tahu apa misi indah-Nya, tetapi aku yakin suatu saat hikmah luar biasa itu akan Allah tunjukkan padaku dan membuatku bersyukur pernah ditempatkan di posisi saat ini...

            Ya Allah...terima kasih telah membersamaiku selama ini...
Aku tanpa-Mu bagai butiran debu....
I love YOU more, more, and more.

                                                                                    10 Ramadhan 1435 H / 7 Juli 2014
                                                                                             Farah Nadia Karima

Minggu, 23 Februari 2014

Dear Allah



Ya Allah...
Sampaikan rindu ini dengan cara-Mu
Jika ini membuatku dekat pada-Mu
maka aku ridho...aku ikhlas...
Biarkan rasa ini berbalut kasih sayang-Mu,
yang abadi...yang takkan pernah mati
Biarkan air mata ini menjadi saksi,
relaku bersakit hanya untuk cinta-Mu,
Illahi Rabbi...
                Ya Allah...
                Jangan Engkau redupkan kembali cahaya ini
                Sungguh, aku rela Ya Rabbi,
                mendapatkan cahaya, meski luka menganga...
                Namun, luka ini tak perih
                Luka ini tak menyiksa
                Karena aku sadar, cinta-Mu...
                Jauh lebih indah dari gemerlap dunia
Ya Allah...
Aku yakin...sungguh aku yakin
Jika memeag namanya yang Kau tuliskan untukku,
meski  1000 tahun kami tak jumpa,
Kau akan pertemukan kami dengan cara-Mu yang indah...
Yang Engkau ridha dan berkahi jua...
                Ya Allah...
                Aku akan setia menanti dia pilihan-Mu
                Tak ingin dipercepat
                Tak juga diperlambat
                Karena Engkau Maha Tahu,
                waktu yang paling tepat... J

                I believe in YOU, totally!


-FNK-

Rabu, 11 Desember 2013

#FocusToAllah [1]



#FocusToAllah [1]

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
       Setelah sekian lama cerita tentang konsep #FocusToAllah tersimpan rapih di dalam hati, akhirnya mampu kutumpahkan juga, atas se-izin-Nya. #FocusToAllah adalah konsep yang pertama dan paling utama dalam Komunitas #GreatMuslimahID yang diprakarsai oleh Teh Febrianti Almeera atau akrab disapa Teh Pepew (@pewski).
            #FocusToAllah ini untuk pertama kalinya mengakar di dalam hati saat perjalanan pulang usai mengikuti Training Muslimah Hijrah selama dua hari di Bandung bulan April lalu. Training Muslimah Hijrah ini diadakan oleh #GreatMuslimahID dengan Team yang luar biasa..*salut :’)
Saya mendapatkan info itu dari berbagai macam media. Dari akun twitter Teh Pepew sendiri, dari blog Beliau ( FebriantiAlmeera.com ), dan dari buku yang Beliau tulis sendiri. Saya sadar sekali, jarak Boyolali-Bandung itu bisa dibilang jauh. Naik kereta, bisa menempuh perjalanan kurang lebih 9-10 jam. Dengan berbekal ridho orangtua, entah kenapa jarak Boyolali-Bandung terasa menjadi sangat dekat. Hati ini ringan sekali untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tidak ingin sendirian, saya mengajak satu sahabat, Afifah, untuk mengikuti #TMH di Bandung. Alhamdulillah, dia diizinkan juga oleh ibunya. Semakin yakin hati ini untuk datang, saat tiba-tiba ada DM masuk di akun twitterku. Ternyata Teh Ecy dari Jakarta menawarkan ikut mendaftar di rombongannya, supaya dapat diskon. Hehe.  Alhamdulillah... Proses menuju kesana selalu dimudahkan Allah. Dan itu menjadi salah satu prestasi dalam hidupku, yaitu... anak kelas 2 SMA, pergi ke Bandung, hanya berdua saja, naik kereta, tak kenal siapa-siapa, dan tak paham bagaimana Kota Bandung. Satu lagi... saya sengaja membawa fotokopian kecil dari Buku Biologi lalu saya sempatkan belajar barang sebentar, karena hari senin, ada ulangan biologi. :’) Bagi orang lain mungkin hal itu biasa, tapi tidak bagiku. Saya paham betul, Allah yang mampukan. Tanpa-Nya, takkan mampu kulangkahkan kaki menuju Ranah Bandung. Allahu Akbar. :’)
Ya, tepatnya tanggal 6-7 April 2013 lalu. Memang, kejadian ini sudah lama dan baru sempat kutuangkan sekarang. Tapi insyaAllah, hikmah didalamnya takkan lekang oleh waktu. :’)
Setelah tiket acara sudah digenggaman kami, kita berangkat dari stasiun balapan solo Hari Jum’at malam (5/4/13) dan sampai di Bandung keesokan harinya pukul 03.30. Koordinasi dengan panitia #TMH, ternyata baru bisa dibantu diantar ke pondokan pukul 06.00. Alhasil, kita menunggu di Masjid Daarut Tauhid dulu. Subhanallah...senang sekali rasanya bisa mendatangi, sholat, dan mendengarkan ceramah shubuh di masjid ini. Biasanya hanya dengar lewat TV/radio, eh saat itu bisa live dengar ceramah. Walaupun bukan Aa Gym yang memberi tausiyah (karena sedang umroh saat itu), tetapi tak mengapa. Yang penting kan ilmunya. Sampai-sampai netes nih air mata kita di sana. Haruuu banget rasanya. :’)
            Sebelum pukul 06.00, salah satu panitia datang menjemput kami. Namanya Teh Fifi Lutfiah Hayati. Cantik deh orangnya, ramah dan pula. Senang rasanya, Teh Fifi sekarang semakin berprestasi. Beliau baru saja bekerjasama dengan Teh Meyda Sefira dalam buku Teh Meyda yang baru. Teh Fifi sebagai penyanyi dalam  song book tersebut. Subhanallah...oke lanjut yah ceritanya.
            Sampai di pondokan yang terletak di kompleks Daarut Tauhid, kita hanya beristirahat sebentar, lalu pukul 07.00 berangkatlah ke Lokasi, Hotel Banana Inn Bandung, ditemani dengan rintikan hujan. J
            Singkat cerita, selama dua hari itu kami full diberi materi yang bukan hanya materi biasa. Materi yang penuh hikmah. Tentang Life Triangle: Focus to Allah, Focus to Me, and Focus to the others. Focus to Allah adalah ketika setiap kejadian yang terjadi, entah manis atau pahit, selalu dikaitkan dengan Allah. Apa ya hikmahnya ya Allah..Apa kaitannya dengan Engkau ya Allah.. Selalu begitu jika orang berfokus hanya pada Allah. Tidak ada sedih, kecewa, takut. Karena ia yakin, Allah punya maksud indah dari setiap kejadian yang terjadi. Yang kedua Focus to Me. Maksudnya adalah kita tahu kita itu siapa. Apa passion kita. Passion itu bukan tentang bakat tetapi tentang hasrat. Kita akan fokus memaksimalkan potensi yang Allah beri. Yang ketiga, Focus to the others. Setelah menemukan passion, akan lebih indah jika potensi yang kita miliki, kita bagi dengan orang lain. Dengan begitu, kita akan menjadi pribadi yang bermanfaat.
Juga tahap-tahap untuk berhijrah, kita diberi pemahaman secara detail. Sangat detail. Yang bisa dibaca, dipahami, dan dihayati di buku karya Teh Pepew sendiri: Be A Great Muslimah. Terlalu panjang jika saya jabarkan di sini. Hehe.
Kegiatan Training Muslimah Hijrah ini diakhiri dengan penulisan MIMPI di sebuah kain panjang yang diberikan oleh panitia. Kita diwajibkan menulis apa mimpi kita di sana. Setelah ditulis, kita ikat kain itu di kepala, bak pahlawan. Ini bikin nangis, serius... Karena mimpi inilah yang menjadi kendaraan kita menuju tempat tinggal yang paling indah. Jannah. :’)
Dan inilah yang saya tulis... :’)


Dokter Inspirator. Aamiin.. :’) 

Sembari menanti sertifikat jadi, sholat ashar dulu-lah kita. Tak menunggu terlalu lama, sertifikat itu sudah berada di tangan. Alhamdulillah.. :’)




 Sekitar pukul 16.30 (Minggu 7/4/13), kita pulang dari pondokan dengan ditemani teman baru. Namanya Teh Hani dari Bandung tapi asli cirebon, Kak Hanifah, dan adiknya dari Jakarta. Teh Hani yang lebih tahu daerah Bandung, mengantar kami membeli buah tangan terlebih dahulu. Baru setelah itu saya, Afifah, Kak Hanifah berangkat ke stasiun. Karena kebetulan sekali, eh bukan kebetulan, Kak Hani juga akan pergi ke stasiun yang sama, saya putuskanlah ikut mereka naik angkot menuju ke stasiun. Sebelumnya, Afifah menyarankan saya untuk naik taksi saja. Tapi, saya menolak dengan alasan menambah pengalaman baru dengan teman baru. Ya sudah, saya dan Afifah percaya saja dengan Kak Hani yang sedikit tahu tentang Bandung. Berangkatlah kita dengan angkot. Disinilah iman kita benar-benar diuji. Kenapa? Yuk lanjut dulu.. J
Kita bilang ke pak sopir angkot mau ke stasiun Bandung. Ya sudah, kita ikutin aja tuh angkot jalannya kemana. Sepuluh menit...lima belas menit...setengah jam. Belum sampai! Padahal sewaktu berangkat, cepat sekali rasanya sampai ke daerah pondokan kita, ke daarut tauhid. Afifah sangat khawatir. Berkali-kali dia tanya saya, ini sampai manaaa? Ini sampai manaaa? Kok lama bangeeet? Memang, sejak dari Boyolali dia takut jika tertinggal oleh kereta. Saya tenangkan dia, Iya, paling sebentar lagi. Ternyata ketakutannya semakin menjadi-jadi. Saya beranikan bertanya ke penumpang sebelah saya. “Mas, stasiun bandung masih jauh ya?” Si mas-mas menjawab, “Masih jauh banget, turun sini aja mbak, nanti naik taksi.” Kira-kira begitu obrolan kami. Rupanya si mas-mas paham dengan ekspresi kekhawatiran kami. Kelabakanlah kita berempat, satu angkot jadi heboh gara-gara kita. “Paaaak berhenti di sini!” Tidak peduli bayarnya berapa, yang penting kita turun. Oke, mungkin itu karena kesalahan kita yang tidak jelas dalam menyebutkan tujuan. Kita berjalan, berlari, dengan tas besar di tangan kami, rintikan hujanpun kami terobos tak peduli. Saya beranikan diri bertanya dengan Bapak-bapak tukang nasi goreng. “Pak, mau tanya, taksi di sini di mana ya?”. Bapak itu seperti tidak menganggap kehadiran saya. Dijawablah sekenanya, “Di sini nggak ada taksi.” Astaghfirullah..sabar..sabar.. Banyak saya lihat angkot sliweran di jalanan, tetapi sayang, ada tanda merah di atas taksi yang artinya ada penumpangnya. Tidak menyerah sampai di situ, saya mencoba menghubungi panitia #TMH untuk meminta bantuan karena sudah hampir pukul 18.00 sedangkan kita masih lontang-lantung di jalanan. Tetapi Allah tidak diizinkan saya menghubungi panitia. HP saya yang layar sentuh, error ketika akan mengetik nama salah satu panitia, karena rintikan hujan jatuh di layar hp saya. Ya Allah..saat itu Afifah seperti marah kepada saya, karena saya yang mengajaknya naik angkot. Saya ditinggal jauh di belakang, sementara ia sudah jauh di depan. Saya tahu, dia sangat panik, khawatir, takut, sehingga terkesan marah saat berbicara. Saya pasrah, pasrah. Betul-betul pasrah. Saya tak tahu harus bagaimana lagi. Saya sudah membayangkan jika kami tertinggal kereta dan.... ah. Saya sudah pasrah. Saya menangis sembari terus berjalan. Saya tak peduli orang-orang melihat saya dengan tentengan tas besar sambil sesenggukan nangis di jalanan. Saya lalu ingat materi yang baru saja saya dapatkan. Fokus to Allah! Iya! Bahwa pertolongan Allah itu sangat dekat! Aku percaya! Aku percaya! Saya berdoa dalam hati, “Laa haula wa laa quwwata illa billah...Tiada daya dan upaya melainkan dari-Mu ya Allah..” teruuuuus begitu saya ucapkan sepanjang jalan. Sambil menangis. Baru saat itulah saya benar-benar merasa percaya sekali dengan Allah. Jujur, tidak ada rasa takut di dalam hati saya. Saya menangis karena saya yakin bahwa Allah itu Maha Baik, bahwa pertolongan Allah itu sangaaat amat dekat. Hingga suatu keajaiban itu datang... baru beberapa menit setelah saya pasrahkan seluruhnya ke Allah, dan pasti juga karena doa dari Afifah, Kak Hanifah, dan adiknya, terlihat dari seberang jalan, ada taksi dengan...tidak berlampu merah! Artinya tidak ada penumpang. Allahu akbar! Dan Maha Suci Allah, rambu-rambu lalu lintas yang mengapit jalan raya itu menunjukkan warna merah! Langsunglah kami berhamburan lari menyebrang jalan raya dan masuk ke dalam taksi. Saya lihat jam di HP, pukul 18.00 lebih. Alhamdulillah.. Lagi-lagi, jalanan ke stasiun lancar maju jaya. Sama sekali nggak macet. Campur tangan Allah... :’)
Sesempainya di stasiun, saya dan Afifah berpamitan dengan Kak  Hanifah dan adiknya. Lalu masuklah kita ke kereta. Pukul 18.30 kita sudah berada di kereta. Jauh lebih baik dari perkiraan. Dilanjutkan dengan sholat maghrib di dalam kereta dengan air mata yang bercucuran. Usai sholat maghrib kami saling bermaaf-maafan atas sikap yang kurang enak. Alhamdulillah semua baik-baik saja. :)
Tetapi saya masih saja menangis jika mengingat kejadian yang tadi. Bukan..bukan karena takut atau apa. Tetapi karena mengagumi kebaikan-Nya yang luar biasa! Sungguh, Allah memang Maha Tahu. Allah itu Maha Baik betulan. Allah menguji iman kita. Seberapa jauh kita percaya pada-Nya. Allah menguji apakah ilmu di #TMH tadi bermanfaat? Allahu akbar.. Manis sekali ujian ini. Manis sekali saat konsep Focus to Allah sudah ada di hati. Tidak pernah khawatir dengan apapun yang terjadi. Cukup yakin dan percaya bahwa pertolongan Allah sangat amat dekat. Jauuuuh lebih dekat dari apa yang kita perkirakan. Jauh setelah kejadian itu terjadi, dan setelah mendapatkan ilmu tongkat musa dari teh pepew, saya kilas balik kisah ini. Oh ya..ternyata saya pernah di posisi Nabi Musa. Fir’aunnya waktu. Iya, dikejar-kejar waktu. Lautnya adalah jalanan yang nggak tahu itu jalan apa, di mana. Tongkatnya sangat sederhana. Hanya berdoa, yakin, dan terus berjalan. Allahu akbar. :’)
Allah beri kami perlajaran berharga. Sangat berharga. Semenjak itu, konsep #FocusToAllah insyaAllah selalu menjadi bekal dalam menjalani hari-hari dan menjadi bekal sebelum melangkah ke next concept. #FocusToAllah, Fokus dalam mengharap keridhoan-Nya dan selalu mengaitkan apapun kejadian pahit maupun manis dengan Yang Maha Memberi kejadian.

Perjalanan untuk belajar menjadi Great Muslimah belum berakhir. Bahkan takkan pernah berakhir.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.. :)

Salaam, Farah Nadia Karima.

                 
Dipeluk Teh Pepew. Semoga ilmu-ilmunya nular ya, teh..aamiin

Dari kiri: Afifah, Teh Devi (sahabatnya teh pepew), Teh Pepew, Saya.
Dari kiri: Kak Hanifah, Afifah, saya, Teh Hani. :)

With one of my bestfriends, Afifah.

                    

Sabtu, 26 Oktober 2013

Aku Menyayangimu Dengan Caraku


Eits..jangan salah tangkap dulu ya dengan judul ini. Hihi. Bukan, bukan tentang pacar, gebetan, atau apalah.
Begini judul lebih lengkapnya “Aku Menyayangimu Dengan Caraku, Adikku.” Loh kenapa tidak ditulis itu saja? Aku pikir, judulnya tanpa diberi ‘Adikku’ akan lebih menarik orang yang sekilas baca judul ini untuk jadi kepo. Duh...padahal aku juga tidak tau apakah ada yang membuka postingan ini atau tidak. But, keep writing. Aku hanya ingin menulis. Berbagi.
Tidak genap satu tahun lagi, aku sudah akan memasuki dunia per-kuliah-an. Tentu akan jauh lebih sibuk ketimbang masa-masa SMA ini. Aku memikirkan satu hal. Adikku. Anas. Laki-laki nyebelin tapi ngangenin yang sekarang duduk di bangku kelas 5 SD. Selama ini hubungan kita cukup harmonis. Walaupun sering terjadi pertikaian kecil. Aku cukup sering memarahinya. Aku cukup sering membuatnya menangis. Tentu aku punya alasan. Aku tak mau membiarkannya tumbuh dengan pribadi yang manja. Jika mama dan kakakku lebih sering memanjakan adikku, berbeda dengan aku dan papaku yang lebih sering ‘bersatu’ untuk membuat adikku menangis. Itu terjadi kalau adikku sedang merengek minta sesuatu tetapi tidak dikabulkan, saat ia tiba-tiba menangis karena tidak bisa mengerjakan sesuatu, atau saat ia dinasihati tetapi ia malah marah dan menangis. Bagiku, jika itu ditanggapi dengan berlebihan yaitu dengan menuruti segala kemauannya, pribadi manja akan melekat pada dirinya. Aku tak mau adik laki-lakiku satu-satunya menjadi anak yang manja. Maka dari itu, aku sering memarahinya...dan tak jarang membuatnya menangis.
Tetapi, semakin aku menyadari waktu yang kian menipis waktuku bisa bersama-sama dengannya, aku menyadari caraku salah. Aku paham adikku adalah tipe yang jika dinasihati harus dengan cara halus. Cara baik-baik. Dengan cara itu, akan lebih mudah masuk ke dalam dirinya. Walaupun...terkadang masih saja aku memarahinya. Ada rasa sesal, sedih, melihat dan mendengar adikku menangis. Hatiku merasa sakit. Betul-betul sakit. Untuk menebus kesalahanku, biasanya setelah beberapa jam mereda, kubelikan dia makanan atau minuman kesukaannya. Untuk memulihkan mental. Seketika hatiku sangat lega melihat dia tersenyum, tertawa kembali.
Aku memang bukan tipe kakak yang suka membelikan apa-apa untuk adiknya. Jadi sangat jarang aku membelikannya makanan, barang, mainan, atau apalah. Mungkin untuk sebagian orang, memberikan barang adalah sebagai tanda cinta.
Pernah jika ada waktu longgar, aku disuruh menjemput adikku di sekolah. Dan aku paling takut jika aku menjemput adikku terlambat. Kenapa? Karena adikku pernah menangis karena terlalu lama menunggu jemputan. Makanya sebisa mungkin ketika aku menjemput, sebelum dia keluar, aku sudah ada di sana. Pernah satu kali, aku menjemputnya terlambat. Satpam bilang kalau adikku, Anas, sudah pulang naik angkot. Aku khawatir. Aku sengaja ikuti jalur yang dilewati angkot. Cukup jauh, tapi tak apa, aku ingin menemukan adikku. Dan ternyata...aku dan adikku bertemu di gapura mau masuk rumah. Padahal aku yang nyari sampai muter-muter. Melelahkan, tetapi membahagiakan. Ini caraku menyayangimu, Adikku..
Aku tak tahu apakah tak genap satu tahun ini akan menjadi masa yang aku merasa paling dekat denganmu. Belum lagi, lulus SD nanti, kau akan disekolahkan di pondok oleh papa. Asrama. Akan semakin berkurang intensitas kita bersama-sama, sayang.. tapi papa lakukan itu, aku tau, tidak lain untuk membuatmu menjadi laki-laki hebat, laki-laki mandiri.
Memang benar, jika kita menyadari waktu yang tersisa tinggal sedikit, kita akan lakukan yang terbaik. Seperti halnya hidup.
Adikku, akan kugunakan waktu-waktu emas ini untuk menyayangimu sepenuh hati. Untuk menjagamu... Adikku, maafkan aku jika selama ini aku sering membuatmu menangis. Tak lain karena aku sangat sayang padamu. Semoga...kelak jika kau sudah tumbuh dewasa, kau akan membaca tulisan ini, dan mengerti bahwa kakakmu sangat menyayangimu, sampai kapanpun. I Love You, Anas...