Pages

Selasa, 25 Oktober 2011

Bermimpilah dalam Tidurmu, Bangun, lalu Raih Mimpimu!

      
    Allah memberikanmu kebebasan untuk bermimpi. Benar-benar bebas dan gratis! Jangan pernah sia-siakan hidupmu ini tanpa sebuah atau bahkan sejuta mimpi, karena hidupmu hanyalah untuk hari ini, bukan kemarin atau esok. Jangan takut untuk bermimpi. Bermimpilah hingga mimpimu menyentuh langit di bumi!
  Tapi mimpi takkan terwujud jika hanya do'a tanpa usaha dan usaha tanpa do'a. Do'a dan usaha haruslah berjalan beriringan, berdampingan, tak boleh terpisahkan. Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya untuk mewujudkan mimpi makhluk-makhluk-Nya. Allah akan melihat usaha kita untuk meraih mimpi-mimpi kita dan Allah akan mendengar bisikan lirih do'a kita. Sungguh jangan pernah menyerah untuk itu. Jangan berputus-asa!
   Bermimpilah dalam segala aktivitasmu, bermimpi untuk menjadi yang lebih baik, yang paling baik. Begitu juga dalam tidurmu. Bermimpilah dalam tidurmu. Tetapi janganlah di antara kamu yang terlalu menikmati mimpi-mimpi dalam tidurmu itu. Kalian akan terlena, kalian akan terlena! Kalian akan terlalu menikmati mimpimu dalam tidurmu tanpa berusaha bangun dan meraihnya! Bangunlah. Usap wajahmu. Tarik nafasmu dalam-dalam. Lalu berlarilah jangan pernah menyerah untuk mimpimu yang sudah menunggu kedatanganmu. Jika ada batu yang membuatmu terjatuh, jika ada hujan yang membuatmu basah, lupakan. Jadikan mereka pelajaran untuk membuatmu bangkit dan berlari lagi. Ingatlah kembali bahwa Man Jadda Wajada! Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil!

Minggu, 23 Oktober 2011

Allah Mencintai Kita



    Seorang yang dekat dengan Allah bukan berarti tidak ada air mata. Seorang yang taat pada Allah bukan berarti tidak ada kekurangan. Seorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa-masa sulit. Tetapi orang tersebut akan selalu mengalami penyertaan Allah. Seandainya bergumul pasti ada harapan. Seandainya di padang gurun pasti dipelahara oleh Allah. Seandainya masih dalam proses suatu saat pasti akan dipromosikan Allah. Biarlah Allah yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita. Karena Allah tahu waktu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.
   Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar keikhlasan. Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang memaafkan. Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan. Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketangguhan. Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kemurah-hatian. Tetap semangat. Tetap sabar. Tetap tersenyum. Terus belajar. Karena kamu sedang menimba ilmu di Universitas Kehidupan. Allah menaruhmu di tempatmu yang sekarang bukan karena kebetulan. Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan ketenangan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan, dan air mata. Ketika engkau mengalami sesuatu yang sangat berat dan merasa ditinggalkan sendiri dalam hidup ini. Angkatlah tangan dan kepalamu ke atas tataplah masa depanmu. Ketahuilah, Allah sedang mempersiapkanmu untuk menjadi orang yang luar biasa. 
○ semoga bermanfaat ○
(I got this from my cousin)

Kamis, 13 Oktober 2011

Cerpen: Kisah Risma

            17 September 2010 pukul 06.40…
            Pagi ini langit terlihat begitu cerah dan hangat. Bersahabat sekali dengan suasana hariku saat ini. Semoga hari ini aku selalu di bawah naungan-Nya. Amin. Setelah kutunaikan sholat dhuha, kubuka diari mungil hijauku. Di sana catatan-catatan berkumpul menjadi satu. Segera kulihat agenda acara untuk hari ini. Tertera kalimat “Halal Bihalal Kampoeng Kautsar pukul 10.00”. Hmm, hampir saja aku melupakan acara yang sangat penting itu. Kampoeng Kautsar adalah nama ekstrakulikuler rohis di SMA-ku dulu. Rasanya aku ingin cepat-cepat bertemu dengan teman-teman kampoeng kautsar.
            Waktupun cepat berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 09.30. Segera kukenakan jilbab dan gamis putihku, hingga rapi baru kuberangkat pergi. Setelah terlihat rapi di kaca, tanpa memikirkan apapun, aku langsung menuju ke tempat acara, yaitu masjid al-kautsar.
            Sesudah aku memarkirkan motor, aku buru-buru pergi ke dalam masjid. Tetapi langkahku terhenti ketika tiba di depan masjid. Suasana 2 tahun yang lalu masih begitu terasa di lubuk hati. Sekelebat kisah-kisah indah nan menyenangkan selama 3 tahun itu hinggap di benakku. Kuhirup nafas dalam-dalam, terbesit senyum kecil di bibirku, lalu kulangkahkan kedua kakiku masuk ke dalam masjid. Alya, Zahara, Aisyah, dan Qonita, sahabat-sahabatku, sudah menungguku di dalam masjid. Mereka melambai dan tersenyum melihat kedatanganku.
            “Assalamu’alaikum semuanya.” kataku mengucapkan salam. “Wa’alaikumsalam, Risma.” Jawab mereka bergantian. Sambil menunggu teman-teman yang lain datang, kami pun bercerita tentang universitas-universitas kami sekarang. Hingga di titik, di mana aku harus mengingat diriku di Kampoeng Kautsar dulu. Kisah yang berawal cukup buruk dan berakhir dengan indah dan manis.
            5 tahun lalu, tahun 2005, ketika aku baru masuk kelas X dan diwajibkan memilih satu ekstrakulikuler. Aku benar-benar bingung ingin memilih ekskul apa. Tapi sedetik saja Zahara terlambat menggangguku, maka ekskul English Club-lah yang sudah kuberi tanda centang di formulir. Hhh… Apa sih Zahara pakai menggangguku segala? Hatiku dongkol sekali saat itu. “Rismaa, ikut kampoeng kautsar aja yuuk! Mau ya? Mau ya?” Rayu Zahara dengan tampang cukup memelas. Ya, kampoeng kautsar saat itu memang lagi jadi primadona di sekolah. Dan Zahara-lah yang paling antusias. Dengan tampang yang tak kalah memelas, aku menjawab,”Nggak ah, nggak mau.” “Yaah Risma gitu. Kan nanti ada aku…” Balas Risma semakin memelas. Berulang kali aku menjawab tidak, tidak, dan TIDAK. Terjadilah perdebatan memelas diantara kami berdua. Pada akhirnya, akulah yang mengalah. Ya, aku ikut kampoeng kautsar.
            Sudah 3 bulan setelah perdebatan memelas itu. Sudah 3  bulan pula aku menghabiskan hari-hariku bersama kampoeng kautsar. Di situlah anak-anak sholeh dan sholehah berkumpul. Di mana aku bertemu Alya, Aisyah, dan Qonita yang kini menjadi sahabatku. Dimana mereka mengharap ridho Allah, keselamatan dunia, dan akhirat. Awalnya memang aku merasa setengah hati ikut di kampoeng kautsar itu, tetapi setelah beberapa bulan aku menjadi anggotanya, aku bisa merasakan perubahan yang luar biasa. Karena kampoeng kautsar-lah yang menjadi awal dimana aku bisa berubah menjadi lebih baik, lebih agamis. Kesetengah-hatianku sudah berubah menjadi sepenuh hati. Tidak ada keraguan di dalam hatiku. Kini aku pun bisa menuai kebaikan dan keindahan setelah bergabung dengan kampoeng kautsar.
            Senyum mengembang di wajah kami, tanda bahagia. Cerita kami pun usai ketika semua teman kampoeng kautsar sudah hadir di masjid al-kautsar. Acara pun segera di mulai. Halal bihalal berjalan sangat hangat dan indah dibalut dengan atmosfir kebersamaan.



-Original by: Farah Nadia Karima-

Cerpen: Tujuhbelas Gezy

   Minggu, 15 Agustus 2011 pukul 00.05 WIB,
            “Selamat Ulang Tahun yang ke-17 Gezy! J” Serangkaian kalimat ucapan ulang tahun di layar ponselku datang silih berganti. Rasa kantuk yang masih bertengger di kepalaku pun tiba-tiba saja hilang seketika. Diganti dengan bunyi keypad handphone-ku yang sibuk dipencet-pencet oleh jemariku untuk sekedar membalas ucapan terima kasih untuk si pengirim. Aku pun segera melanjutkan tidur. Tetapi bunyi getar terus saja terdengar, mengusik ketenanganku saja. 1 message, kuhiraukan. Selang beberapa menit  getar itu semakin bertambah pertanda sms telah bertambah pula. Kali ini aku terpaksa membuka mata lebar-lebar. Sekarang dilayar tertera kalimat 7 messages. Kubuka satu per satu pesan. Semua berisi hal yang sama. Juga kubalas dengan kalimat yang sama pula.
            Sekarang aku sudah 17 tahun, semoga semua berjalan dengan baik dan ayah cepat sembuh, sambungku sambil berdoa dalam hati dan mencoba untuk tidur kembali.
            Pukul 04.30 WIB, aku terbangun dari tidurku, aku pun langsung menunaikan ibadah sholat subuh. Setelah selesai, kulihat layar ponselku kembali apakah tertera pesan dengan nama pengirim Fanny. Kucermati dengan detail, tetapi tetap tak kutemukan namanya. Tepat hari ulang tahunku saat ini adalah 5 tahun kita bersahabat. Tetapi kenapa Fanny sama sekali belum mengucapkan. Padahal di tahun sebelumnya ia selalu menjadi yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun padaku, gumamku dalam hati. Tapi akan tetap kunanti ucapannya untukku.
            Matahari sangat bersahabat sore ini dan karena hari ulang tahunku kali ini bertepatan hari minggu, maka aku mengajak ketiga sahabatku, Fanny, Ave, dan Helvy untuk jalan-jalan di taman yang baru selesai digarap. Ave dan Helvy sudah berhasil kuhubungi. Tetapi ketika aku menelepon Fanny, operatornya malah ngomel-ngomel  padaku. Aduh, kemana sih si Fanny. Terpaksa sore ini hanya aku, Ave dan Helvy yang pergi bersama.
Di taman, kita saling bertukar cerita mengenai ultah ke 17 kami. Kebetulan Ave sudah 5 bulan lalu berulang tahun dan berakhir dengan happy ending karena lelaki yang dikaguminya menyatakan bahwa ia juga mengagumi Ave. Lain lagi dengan Helvy yang  sweet seventeen-nya penuh dengan kejutan lucu. Dan hanya aku yang mempunyai cerita sedih, karena sahabat tersayangku belum mengucapkan selamat padaku. Lebih kecewanya lagi, dia tidak bisa kuhubungi hingga detik ini.
Tak terasa sudah pukul 17.00 WIB, kita segera beranjak pulang. Kita tidak mau jika sampai rumah pada saat maghrib tiba. Ketika sampai di rumah, Ibuku sudah menantiku di sofa merah empukku. Wajahnya tak seceria biasanya. Di tangannya ada sebuah kado mungil terbungkus dengan kertas kado berwarna biru muda, warna kesukaanku. Dari siapa ya? Tanyaku dalam hati. “Gezy, ini ada sebuah kado istimewa untukmu,”kata ibuku. “Dari siapa, Ibu?” Jawabku. “Bukalah dahulu, di dalamnya ada secarik kertas.” Sahut ibu dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Kenapa aneh begini?. Kubuka dengan hati-hati, Ya Allah, inikan buku yang sudah sejak lama kucari, gumamku dalam hati. Tetapi aku segera mengambil dan membaca secarik kertas berwarna putih polos yang terselip di antaranya.

Minggu, 15 Agustus 2011 pukul 00.01 WIB
Happy Birthday Gezy-ku sayang! J Selamat ulang tahun yang ke 17 ya. Semoga Gezy selalu jadi orang yang lebih baik di kemudian hari. Amin. Happy 5th Anniversary juga buat persahabatan kita, Gez. J semoga hati kita terus bersama walaupun ajal akan memisahkan kita. Maaf ya Gez, aku hanya bisa ngasih sebuah buku ini ke kamu, karena aku tahu kamu sangat menginginkan buku ini. Semoga hadiah yang kecil ini dapat membuatmu melonjak-lonjak bahagia ya. Hehe.
Cukup sekian ya Gezy ucapan selamatku.
                                                                                                Sahabatmu tersayang,
                                                                                                         Fanny
                 
                “Gezy, tadi yang mengantar kado ini adalah ibunya Fanny, Tante Eli.” Tak terasa aku menitikkan air mata. Ternyata ucapan yang paling kutunggu-tunggu datang juga. Tetapi kenapa Fanny tak datang ke rumah ini langsung saja ya? Kenapa ada kadonya tetapi tak ada orangnya? Hatiku terus bertanya-tanya. “Nak, Ibu tahu kamu bingung dengan semua ini. Tetapi memang seperti ini kenyataannya.” Kata Ibu yang mengerti kebingunganku. “Ada pa ibu? Ada apa? Kenapa Fanny tak mengantarnya saja langsung kepada Gezy?” desakku menahan tangis terus menerus. “Fa..fann..Fanny..” jawab Ibu terbata-bata. “Fanny kenapa Ibuu?” ada rasa sangat khawatir di hatiku. “Fanny kecelakaan saat perjalanan mengantar kado itu ke rumah ini.. dan Fanny..Fanny nyawanya tak dapat diselamatkan Gezy..” Jawab Ibu dengan mimik wajah sangat sedih. Ibu juga sudah sangat mengenal Fanny semenjak aku bersahabat dengannya. Air mataku mengalir dengan sendirinya, deras, semakin deras. Aku tak dapat berkata apa-apa. Kalimatsemoga hati kita terus bersama walaupun ajal akan memisahkan kita” dalam surat terakhirnya untukku itu ternyata menjadi pertanda bahwa Fanny, sahabatku tersayang, akan meninggalkan dunia ini. Sebagai sahabat yang baik, aku harus merelakan kepergiannya. Walau jasadnya sudah tak terlihat lagi, tetapi segala kebaikan dan kenangan yang ia berikan untukku takkan pernah kulupakan, seumur hidupku. Fanny, aku sayang kamu. Walau dunia kita sudah berbeda, tetapi hati kita tetap satu, hati kita tak akan terpisahkan. Semoga kamu tenang di sisi Allah SWT. Amin.



- Original by: Farah Nadia Karima-

Semoga Esok kutemukan Matahari

my rainbow ♥
sepoi-sepoi angin malam membelai wajahku
bersama cahaya rembulan kau pancarkan sinarmu
ajak aku bicara, ajak aku
ingin kuungkapkan sesuatu
yang tak mampu lagi kutulis dengan penaku
wahai angin malam dengarlah hembusan suaraku
hanya kau yang dapat mendengarku malam ini
kuingin mengadu padamu
kepada sahabat-sahabatmu
kepada embun, bintang, rembulan, dan langit biru
tapi apa daya kau terlalu abstrak untukku
semoga esok aku menemukan matahari
yang dapat mendengar desah hatiku
yang dapat menyeka air mataku
yang dapat membawaku
bersama pelangi
bersama awan membiru

Senin, 10 Oktober 2011

Man Jadda Wajada

Ketika umat-Nya bersungguh-sungguh dalam melakukan sebuah hal, maka Dia akan memberi kemudahan dan keberhasilan. MAN JADDA WAJADA! \^,^/ 

Minggu, 09 Oktober 2011

Benang yang Putus

Sore ini
Aku tanpa kawan
Termenung sendiri
Mencoba lupakan
Yang tak harus dilupakan
Senyum tetap menghiasi
Walau sakit ini terus menusuk hati
Embun sore menetes kembali
Dari pelupuk bidadari cantik
Semakin kumelupakan
Semakin kumengingat
Aku sadar
Aku orang yang tak berarti
Untukmu kini
Mungkin kau sudah melupakan mimpi-mimpi
Yang sedang terajut indah
Tetapi kau putuskan benangnya
Tanpa melihat embun-embun yang menetes
Kapan kau mengerti?
Kapan kau pahami?
Perasaan ini?

Sabtu, 08 Oktober 2011

Indah Dunia

INDAH DUNIA

Taburan bintang di angkasa
Menyapa diriku yang tersenyum karenanya
Tak sedikit pun mata terpejam
Menyaksikan sejuta keajaiban alam
Indah oh indah malam ini
Lengkapi rasa yang telah terukir dalam hati
Sempurnakan jiwa yang dilanda sepi
Damaikan hati dengan cahaya mimpi
Remang-remang lampu minyak
Temaniku menapaki bukit cinta
Akupun terbuai
Terbuai lemas diantara indah dunia
Fiuh... Kuberbaring di hamparan ilalang-ilalang
Dengan genggaman kertas putih dan tinta hitam
Kutorehkan isi hati dan pikiran
Yang tak mampu kuucap melalui lisan
Hatiku tersipu malu
Ketika bintang tersenyum padaku
Melihat secuil karyasederhanaku
Karya tentangnya dan tentu alam semesta
Kuamati ilalang yang menyelubungiku
Kuajak mereka berbicara tentang keindahan alam ini
Merekapun mengangguk tanda mengerti kataku
Bersama angin tak henti kuumbar senyum manisku ini
Tak kuasa kumenitikkan air mata
Saat kuhirup angin malam
Tak pernah kusesali tanah merah ini menjadi ibu terbesarku
Sungguh , kubersyukur masih diberi hidup oleh Yang Maha Kuasa





[ karya kecil farah nadia karima :) 30jun10 ]

alhamdulillah pernah diapresiasi sama ka sinta ridwan penulis novel Berteman Dengan Kematian...

Pilu

diam membisu dalam kepiluan
tetes air mata pun tak sebening embun pagi
sisa-sisa hujaman duri masih membekas
di dalamnya lubuk hati