Pages

Rabu, 11 Desember 2013

#FocusToAllah [1]



#FocusToAllah [1]

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
       Setelah sekian lama cerita tentang konsep #FocusToAllah tersimpan rapih di dalam hati, akhirnya mampu kutumpahkan juga, atas se-izin-Nya. #FocusToAllah adalah konsep yang pertama dan paling utama dalam Komunitas #GreatMuslimahID yang diprakarsai oleh Teh Febrianti Almeera atau akrab disapa Teh Pepew (@pewski).
            #FocusToAllah ini untuk pertama kalinya mengakar di dalam hati saat perjalanan pulang usai mengikuti Training Muslimah Hijrah selama dua hari di Bandung bulan April lalu. Training Muslimah Hijrah ini diadakan oleh #GreatMuslimahID dengan Team yang luar biasa..*salut :’)
Saya mendapatkan info itu dari berbagai macam media. Dari akun twitter Teh Pepew sendiri, dari blog Beliau ( FebriantiAlmeera.com ), dan dari buku yang Beliau tulis sendiri. Saya sadar sekali, jarak Boyolali-Bandung itu bisa dibilang jauh. Naik kereta, bisa menempuh perjalanan kurang lebih 9-10 jam. Dengan berbekal ridho orangtua, entah kenapa jarak Boyolali-Bandung terasa menjadi sangat dekat. Hati ini ringan sekali untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tidak ingin sendirian, saya mengajak satu sahabat, Afifah, untuk mengikuti #TMH di Bandung. Alhamdulillah, dia diizinkan juga oleh ibunya. Semakin yakin hati ini untuk datang, saat tiba-tiba ada DM masuk di akun twitterku. Ternyata Teh Ecy dari Jakarta menawarkan ikut mendaftar di rombongannya, supaya dapat diskon. Hehe.  Alhamdulillah... Proses menuju kesana selalu dimudahkan Allah. Dan itu menjadi salah satu prestasi dalam hidupku, yaitu... anak kelas 2 SMA, pergi ke Bandung, hanya berdua saja, naik kereta, tak kenal siapa-siapa, dan tak paham bagaimana Kota Bandung. Satu lagi... saya sengaja membawa fotokopian kecil dari Buku Biologi lalu saya sempatkan belajar barang sebentar, karena hari senin, ada ulangan biologi. :’) Bagi orang lain mungkin hal itu biasa, tapi tidak bagiku. Saya paham betul, Allah yang mampukan. Tanpa-Nya, takkan mampu kulangkahkan kaki menuju Ranah Bandung. Allahu Akbar. :’)
Ya, tepatnya tanggal 6-7 April 2013 lalu. Memang, kejadian ini sudah lama dan baru sempat kutuangkan sekarang. Tapi insyaAllah, hikmah didalamnya takkan lekang oleh waktu. :’)
Setelah tiket acara sudah digenggaman kami, kita berangkat dari stasiun balapan solo Hari Jum’at malam (5/4/13) dan sampai di Bandung keesokan harinya pukul 03.30. Koordinasi dengan panitia #TMH, ternyata baru bisa dibantu diantar ke pondokan pukul 06.00. Alhasil, kita menunggu di Masjid Daarut Tauhid dulu. Subhanallah...senang sekali rasanya bisa mendatangi, sholat, dan mendengarkan ceramah shubuh di masjid ini. Biasanya hanya dengar lewat TV/radio, eh saat itu bisa live dengar ceramah. Walaupun bukan Aa Gym yang memberi tausiyah (karena sedang umroh saat itu), tetapi tak mengapa. Yang penting kan ilmunya. Sampai-sampai netes nih air mata kita di sana. Haruuu banget rasanya. :’)
            Sebelum pukul 06.00, salah satu panitia datang menjemput kami. Namanya Teh Fifi Lutfiah Hayati. Cantik deh orangnya, ramah dan pula. Senang rasanya, Teh Fifi sekarang semakin berprestasi. Beliau baru saja bekerjasama dengan Teh Meyda Sefira dalam buku Teh Meyda yang baru. Teh Fifi sebagai penyanyi dalam  song book tersebut. Subhanallah...oke lanjut yah ceritanya.
            Sampai di pondokan yang terletak di kompleks Daarut Tauhid, kita hanya beristirahat sebentar, lalu pukul 07.00 berangkatlah ke Lokasi, Hotel Banana Inn Bandung, ditemani dengan rintikan hujan. J
            Singkat cerita, selama dua hari itu kami full diberi materi yang bukan hanya materi biasa. Materi yang penuh hikmah. Tentang Life Triangle: Focus to Allah, Focus to Me, and Focus to the others. Focus to Allah adalah ketika setiap kejadian yang terjadi, entah manis atau pahit, selalu dikaitkan dengan Allah. Apa ya hikmahnya ya Allah..Apa kaitannya dengan Engkau ya Allah.. Selalu begitu jika orang berfokus hanya pada Allah. Tidak ada sedih, kecewa, takut. Karena ia yakin, Allah punya maksud indah dari setiap kejadian yang terjadi. Yang kedua Focus to Me. Maksudnya adalah kita tahu kita itu siapa. Apa passion kita. Passion itu bukan tentang bakat tetapi tentang hasrat. Kita akan fokus memaksimalkan potensi yang Allah beri. Yang ketiga, Focus to the others. Setelah menemukan passion, akan lebih indah jika potensi yang kita miliki, kita bagi dengan orang lain. Dengan begitu, kita akan menjadi pribadi yang bermanfaat.
Juga tahap-tahap untuk berhijrah, kita diberi pemahaman secara detail. Sangat detail. Yang bisa dibaca, dipahami, dan dihayati di buku karya Teh Pepew sendiri: Be A Great Muslimah. Terlalu panjang jika saya jabarkan di sini. Hehe.
Kegiatan Training Muslimah Hijrah ini diakhiri dengan penulisan MIMPI di sebuah kain panjang yang diberikan oleh panitia. Kita diwajibkan menulis apa mimpi kita di sana. Setelah ditulis, kita ikat kain itu di kepala, bak pahlawan. Ini bikin nangis, serius... Karena mimpi inilah yang menjadi kendaraan kita menuju tempat tinggal yang paling indah. Jannah. :’)
Dan inilah yang saya tulis... :’)


Dokter Inspirator. Aamiin.. :’) 

Sembari menanti sertifikat jadi, sholat ashar dulu-lah kita. Tak menunggu terlalu lama, sertifikat itu sudah berada di tangan. Alhamdulillah.. :’)




 Sekitar pukul 16.30 (Minggu 7/4/13), kita pulang dari pondokan dengan ditemani teman baru. Namanya Teh Hani dari Bandung tapi asli cirebon, Kak Hanifah, dan adiknya dari Jakarta. Teh Hani yang lebih tahu daerah Bandung, mengantar kami membeli buah tangan terlebih dahulu. Baru setelah itu saya, Afifah, Kak Hanifah berangkat ke stasiun. Karena kebetulan sekali, eh bukan kebetulan, Kak Hani juga akan pergi ke stasiun yang sama, saya putuskanlah ikut mereka naik angkot menuju ke stasiun. Sebelumnya, Afifah menyarankan saya untuk naik taksi saja. Tapi, saya menolak dengan alasan menambah pengalaman baru dengan teman baru. Ya sudah, saya dan Afifah percaya saja dengan Kak Hani yang sedikit tahu tentang Bandung. Berangkatlah kita dengan angkot. Disinilah iman kita benar-benar diuji. Kenapa? Yuk lanjut dulu.. J
Kita bilang ke pak sopir angkot mau ke stasiun Bandung. Ya sudah, kita ikutin aja tuh angkot jalannya kemana. Sepuluh menit...lima belas menit...setengah jam. Belum sampai! Padahal sewaktu berangkat, cepat sekali rasanya sampai ke daerah pondokan kita, ke daarut tauhid. Afifah sangat khawatir. Berkali-kali dia tanya saya, ini sampai manaaa? Ini sampai manaaa? Kok lama bangeeet? Memang, sejak dari Boyolali dia takut jika tertinggal oleh kereta. Saya tenangkan dia, Iya, paling sebentar lagi. Ternyata ketakutannya semakin menjadi-jadi. Saya beranikan bertanya ke penumpang sebelah saya. “Mas, stasiun bandung masih jauh ya?” Si mas-mas menjawab, “Masih jauh banget, turun sini aja mbak, nanti naik taksi.” Kira-kira begitu obrolan kami. Rupanya si mas-mas paham dengan ekspresi kekhawatiran kami. Kelabakanlah kita berempat, satu angkot jadi heboh gara-gara kita. “Paaaak berhenti di sini!” Tidak peduli bayarnya berapa, yang penting kita turun. Oke, mungkin itu karena kesalahan kita yang tidak jelas dalam menyebutkan tujuan. Kita berjalan, berlari, dengan tas besar di tangan kami, rintikan hujanpun kami terobos tak peduli. Saya beranikan diri bertanya dengan Bapak-bapak tukang nasi goreng. “Pak, mau tanya, taksi di sini di mana ya?”. Bapak itu seperti tidak menganggap kehadiran saya. Dijawablah sekenanya, “Di sini nggak ada taksi.” Astaghfirullah..sabar..sabar.. Banyak saya lihat angkot sliweran di jalanan, tetapi sayang, ada tanda merah di atas taksi yang artinya ada penumpangnya. Tidak menyerah sampai di situ, saya mencoba menghubungi panitia #TMH untuk meminta bantuan karena sudah hampir pukul 18.00 sedangkan kita masih lontang-lantung di jalanan. Tetapi Allah tidak diizinkan saya menghubungi panitia. HP saya yang layar sentuh, error ketika akan mengetik nama salah satu panitia, karena rintikan hujan jatuh di layar hp saya. Ya Allah..saat itu Afifah seperti marah kepada saya, karena saya yang mengajaknya naik angkot. Saya ditinggal jauh di belakang, sementara ia sudah jauh di depan. Saya tahu, dia sangat panik, khawatir, takut, sehingga terkesan marah saat berbicara. Saya pasrah, pasrah. Betul-betul pasrah. Saya tak tahu harus bagaimana lagi. Saya sudah membayangkan jika kami tertinggal kereta dan.... ah. Saya sudah pasrah. Saya menangis sembari terus berjalan. Saya tak peduli orang-orang melihat saya dengan tentengan tas besar sambil sesenggukan nangis di jalanan. Saya lalu ingat materi yang baru saja saya dapatkan. Fokus to Allah! Iya! Bahwa pertolongan Allah itu sangat dekat! Aku percaya! Aku percaya! Saya berdoa dalam hati, “Laa haula wa laa quwwata illa billah...Tiada daya dan upaya melainkan dari-Mu ya Allah..” teruuuuus begitu saya ucapkan sepanjang jalan. Sambil menangis. Baru saat itulah saya benar-benar merasa percaya sekali dengan Allah. Jujur, tidak ada rasa takut di dalam hati saya. Saya menangis karena saya yakin bahwa Allah itu Maha Baik, bahwa pertolongan Allah itu sangaaat amat dekat. Hingga suatu keajaiban itu datang... baru beberapa menit setelah saya pasrahkan seluruhnya ke Allah, dan pasti juga karena doa dari Afifah, Kak Hanifah, dan adiknya, terlihat dari seberang jalan, ada taksi dengan...tidak berlampu merah! Artinya tidak ada penumpang. Allahu akbar! Dan Maha Suci Allah, rambu-rambu lalu lintas yang mengapit jalan raya itu menunjukkan warna merah! Langsunglah kami berhamburan lari menyebrang jalan raya dan masuk ke dalam taksi. Saya lihat jam di HP, pukul 18.00 lebih. Alhamdulillah.. Lagi-lagi, jalanan ke stasiun lancar maju jaya. Sama sekali nggak macet. Campur tangan Allah... :’)
Sesempainya di stasiun, saya dan Afifah berpamitan dengan Kak  Hanifah dan adiknya. Lalu masuklah kita ke kereta. Pukul 18.30 kita sudah berada di kereta. Jauh lebih baik dari perkiraan. Dilanjutkan dengan sholat maghrib di dalam kereta dengan air mata yang bercucuran. Usai sholat maghrib kami saling bermaaf-maafan atas sikap yang kurang enak. Alhamdulillah semua baik-baik saja. :)
Tetapi saya masih saja menangis jika mengingat kejadian yang tadi. Bukan..bukan karena takut atau apa. Tetapi karena mengagumi kebaikan-Nya yang luar biasa! Sungguh, Allah memang Maha Tahu. Allah itu Maha Baik betulan. Allah menguji iman kita. Seberapa jauh kita percaya pada-Nya. Allah menguji apakah ilmu di #TMH tadi bermanfaat? Allahu akbar.. Manis sekali ujian ini. Manis sekali saat konsep Focus to Allah sudah ada di hati. Tidak pernah khawatir dengan apapun yang terjadi. Cukup yakin dan percaya bahwa pertolongan Allah sangat amat dekat. Jauuuuh lebih dekat dari apa yang kita perkirakan. Jauh setelah kejadian itu terjadi, dan setelah mendapatkan ilmu tongkat musa dari teh pepew, saya kilas balik kisah ini. Oh ya..ternyata saya pernah di posisi Nabi Musa. Fir’aunnya waktu. Iya, dikejar-kejar waktu. Lautnya adalah jalanan yang nggak tahu itu jalan apa, di mana. Tongkatnya sangat sederhana. Hanya berdoa, yakin, dan terus berjalan. Allahu akbar. :’)
Allah beri kami perlajaran berharga. Sangat berharga. Semenjak itu, konsep #FocusToAllah insyaAllah selalu menjadi bekal dalam menjalani hari-hari dan menjadi bekal sebelum melangkah ke next concept. #FocusToAllah, Fokus dalam mengharap keridhoan-Nya dan selalu mengaitkan apapun kejadian pahit maupun manis dengan Yang Maha Memberi kejadian.

Perjalanan untuk belajar menjadi Great Muslimah belum berakhir. Bahkan takkan pernah berakhir.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.. :)

Salaam, Farah Nadia Karima.

                 
Dipeluk Teh Pepew. Semoga ilmu-ilmunya nular ya, teh..aamiin

Dari kiri: Afifah, Teh Devi (sahabatnya teh pepew), Teh Pepew, Saya.
Dari kiri: Kak Hanifah, Afifah, saya, Teh Hani. :)

With one of my bestfriends, Afifah.