Pages

Sabtu, 26 Oktober 2013

Aku Menyayangimu Dengan Caraku


Eits..jangan salah tangkap dulu ya dengan judul ini. Hihi. Bukan, bukan tentang pacar, gebetan, atau apalah.
Begini judul lebih lengkapnya “Aku Menyayangimu Dengan Caraku, Adikku.” Loh kenapa tidak ditulis itu saja? Aku pikir, judulnya tanpa diberi ‘Adikku’ akan lebih menarik orang yang sekilas baca judul ini untuk jadi kepo. Duh...padahal aku juga tidak tau apakah ada yang membuka postingan ini atau tidak. But, keep writing. Aku hanya ingin menulis. Berbagi.
Tidak genap satu tahun lagi, aku sudah akan memasuki dunia per-kuliah-an. Tentu akan jauh lebih sibuk ketimbang masa-masa SMA ini. Aku memikirkan satu hal. Adikku. Anas. Laki-laki nyebelin tapi ngangenin yang sekarang duduk di bangku kelas 5 SD. Selama ini hubungan kita cukup harmonis. Walaupun sering terjadi pertikaian kecil. Aku cukup sering memarahinya. Aku cukup sering membuatnya menangis. Tentu aku punya alasan. Aku tak mau membiarkannya tumbuh dengan pribadi yang manja. Jika mama dan kakakku lebih sering memanjakan adikku, berbeda dengan aku dan papaku yang lebih sering ‘bersatu’ untuk membuat adikku menangis. Itu terjadi kalau adikku sedang merengek minta sesuatu tetapi tidak dikabulkan, saat ia tiba-tiba menangis karena tidak bisa mengerjakan sesuatu, atau saat ia dinasihati tetapi ia malah marah dan menangis. Bagiku, jika itu ditanggapi dengan berlebihan yaitu dengan menuruti segala kemauannya, pribadi manja akan melekat pada dirinya. Aku tak mau adik laki-lakiku satu-satunya menjadi anak yang manja. Maka dari itu, aku sering memarahinya...dan tak jarang membuatnya menangis.
Tetapi, semakin aku menyadari waktu yang kian menipis waktuku bisa bersama-sama dengannya, aku menyadari caraku salah. Aku paham adikku adalah tipe yang jika dinasihati harus dengan cara halus. Cara baik-baik. Dengan cara itu, akan lebih mudah masuk ke dalam dirinya. Walaupun...terkadang masih saja aku memarahinya. Ada rasa sesal, sedih, melihat dan mendengar adikku menangis. Hatiku merasa sakit. Betul-betul sakit. Untuk menebus kesalahanku, biasanya setelah beberapa jam mereda, kubelikan dia makanan atau minuman kesukaannya. Untuk memulihkan mental. Seketika hatiku sangat lega melihat dia tersenyum, tertawa kembali.
Aku memang bukan tipe kakak yang suka membelikan apa-apa untuk adiknya. Jadi sangat jarang aku membelikannya makanan, barang, mainan, atau apalah. Mungkin untuk sebagian orang, memberikan barang adalah sebagai tanda cinta.
Pernah jika ada waktu longgar, aku disuruh menjemput adikku di sekolah. Dan aku paling takut jika aku menjemput adikku terlambat. Kenapa? Karena adikku pernah menangis karena terlalu lama menunggu jemputan. Makanya sebisa mungkin ketika aku menjemput, sebelum dia keluar, aku sudah ada di sana. Pernah satu kali, aku menjemputnya terlambat. Satpam bilang kalau adikku, Anas, sudah pulang naik angkot. Aku khawatir. Aku sengaja ikuti jalur yang dilewati angkot. Cukup jauh, tapi tak apa, aku ingin menemukan adikku. Dan ternyata...aku dan adikku bertemu di gapura mau masuk rumah. Padahal aku yang nyari sampai muter-muter. Melelahkan, tetapi membahagiakan. Ini caraku menyayangimu, Adikku..
Aku tak tahu apakah tak genap satu tahun ini akan menjadi masa yang aku merasa paling dekat denganmu. Belum lagi, lulus SD nanti, kau akan disekolahkan di pondok oleh papa. Asrama. Akan semakin berkurang intensitas kita bersama-sama, sayang.. tapi papa lakukan itu, aku tau, tidak lain untuk membuatmu menjadi laki-laki hebat, laki-laki mandiri.
Memang benar, jika kita menyadari waktu yang tersisa tinggal sedikit, kita akan lakukan yang terbaik. Seperti halnya hidup.
Adikku, akan kugunakan waktu-waktu emas ini untuk menyayangimu sepenuh hati. Untuk menjagamu... Adikku, maafkan aku jika selama ini aku sering membuatmu menangis. Tak lain karena aku sangat sayang padamu. Semoga...kelak jika kau sudah tumbuh dewasa, kau akan membaca tulisan ini, dan mengerti bahwa kakakmu sangat menyayangimu, sampai kapanpun. I Love You, Anas...


Sabtu, 12 Oktober 2013

Masalah Membuatku Mengerti

Aku yakin. Aku, kamu, dia, mereka, tak jarang kedatangan sebuah masalah. Atau malah banyak buah. Dan aku paham sekali bahwa cover dari sebuah masalah itu sangat tidak mengenakkan. Ia adalah sesuatu yang tak pernah kita harapkan. Kebanyakan respon pertama kita saat mendapat masalah adalah mengeluh.
 "IH, Allah nggak adil. Masa begini? Masa begitu?"
 "Ah, masalah lagi! Kapan sih bisa hidup tenang tanpa masalah gitu?"
 Semoga kita bukan termasuk golongan manusia yang mudah mengeluh seperti itu. aamiin. Kawan, bukankah Allah menghadirkan suatu masalah dengan membawa suatu misi indah? Kau tak percaya? Misi indah dari Allah hanya dapat kita temukan jika kita melepas kacamata negatif kita menjadi kacamata positif. Kita harus mengupayakan membuang segala tetekbengek yang melemahkan diri.    

Beberapa bulan yang lalu, sebuah kado indah Dari Allah datang spesial untuk keluargaku. Ia berwujud 'masalah'. Begitu teramat lelah sehabis 3 hari 2 malam melakukan aktivitas semacam jambore. Tidur pun tak sampai 3 jam selama 2 malam itu. Tujuan pertamaku saat kaki menapaki lantai rumah adalah istirahat. Tidur. Hanya itu yang ada di pikiranku saat berada di sana. Tetapi keinginanku tak dapat terwujud. Belum juga aku meletakkan tubuh barang sejenak, berita mengejutkan ITU menyambar telingaku. Menusuk hatiku. Tak hanya menusuk, tetapi MENGHANCURKAN. Aku menangis. Lupa akan segala kelelahan yang menggerogoti. Yang hanya ada dipikiranku saat itu hanya mereka. Papa. Mama. Jika perasaanku saja betapa hancurnya, apalagi mereka?? Ya Allah...

Baru kali itu aku melihat wanita yang kesehariannya selalu penuh dengan keceriaan meneteskan bulir-bulir air mata. Taukah kalian? Itu 1000000x lebih menyakitkan ketimbang dia yang sedang putus cinta. Lelaki yang terkadang marah saat anaknya berkelakuan kelewatan, Kali itu Beliau tenang. Tetapi kemudian Beliau keluar. Aku paham sekali, meski tak nampak kemarahan di raut wajahnya, hatinya sangat amat hancur berantakan. Remuk. Itu semua amat sangat menyakitkan bagiku.

"Farah, selama ini kamu udah cukup bikin papa mama bangga. Tapi kamu pasti bisa buktikan untuk lebih bikin bangga papa mama.. Kamu harapan papa mama..." Air Mata sama sekali tak mampu kubendung. saat itu aku menyadari...betapa aku mencintai mereka. Sudah terlalu sering aku menyakiti hati mereka. Betapa hinanya diriku. Menyakiti wali Allah di dunia.

Masalah itu membuatku lebih mengerti arti hidup. Ridho-Nya berada pada ridho mereka. Ketika mereka ridho...mudah bagi Allah untuk memberi segenap pertolongan pada setiap langkah kaki kita. Semenjak itu... aku lebih terbuka terhadap mereka. Ridho mereka selalu kukejar demi mendapat ridho-Nya. Aktivitas apapun selalu kumeminta izin pada mama dan papa. Aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri untuk tidak mengecewakan mereka. Untuk membahagiakan mereka. Sekuat tenagaku. Semampuku. Atas izin Allah...

 Ya Allah...semoga Engkau ridho terhadapku. Terhadap apa yang aku upayakan. Semoga Engkau izinkan hamba mengemban amanah sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran..tahun depan. Ini impianku, impian papa, impian mama.. I wish I can make them proud. And because of it..I hope I get Your ridho. Aamiin..

Kawan, masalah jangan membuat dirimu lemah. Bangkit. Allah sedang ingin mengangkat derajatmu. Tidak ada masalah yang tak menguatkan. Begitu kata guru saya. Febrianti Almeera. :)

Tetap semangat menjalani labirin kehidupan karena Allah semata. Man Jadda Wajada. Allahu Akbar! :D