Pages

Selasa, 18 Juni 2013

Pak Oga: Bermodal Ikhlas

Bismillah..
Pak Oga: Bermodal Ikhlas
            Saudara-saudara-ku, taukah Anda dengan ‘Pak Oga’? Jujur, saya dulu tidak paham ketika Ayah dan Ibu saya menyebut-nyebut ‘Pak Oga’ ketika melintasi perempatan jalan dan melihat ada seorang bapak-bapak yang semprat-semprit berupaya mengatur lalu lintas. Aduh..polos ya saya. Hehe :3 Ternyata Pak Oga itu adalah seseorang yang stay di perempatan atau pertigaan jalan untuk membantu arus lalu lintas supaya tertib dan teratur. Biasanya Bapak-bapak, bukan mas-mas. Kalo mas-mas nanti jadi Mas Oga. Hehe.. Tetapi sampai saat ini saya belum begitu paham kenapa disebut dengan Pak ‘Oga’.. Yang membuat saya berdecak kagum, mereka tidak ada yang meng-gaji. Berbeda dengan satpam yang pasti digaji, atau tukang parkir yang pasti akan dibayar oleh setiap pengendara yang parkir. Tetapi Pak Oga tidak.. Hanya beberapa pengendara saja yang bersedia membuka jendela mobil, mengulurkan tangan dan memberi beberapa lembar uang.. Belum lagi jika pengendara sepeda motor. Kebanyakan dari mereka belum peduli dengan kehadiran Pak Oga di tengah-tengah mereka. Padahal jasa Pak Oga itu luar biasa.. Di tengah terik panas matahari, mereka berjuang menahan panas demi membuat pengendara motor maupun mobil dapat berkendara dengan nyaman.. terlihat dari pancaran mata mereka bahwa semangat itu masih menyala-menyala. Walaupun saya paham, hasil yang mereka peroleh kurang dari cukup.. Subhanallah.. Tetapi itulah arti kata ‘Ikhlas’ ketika hasil adalah peringkat ke sekian, yang penting bermanfaat bagi sesama. Itu yang saya tangkap. Subhanallah..kita yang masih muda, belum tentu mempunyai pemikiran yang sama seperti Pak Oga. Padahal generasi muda adalah tonggak untuk generasi mendatang. Jika generasi muda yang sekarang mudah mengeluh, melakukan sesuatu dengan pamrih, mau jadi apa?
            Allah menghadirkan segala sesuatu pasti punya maksud. Sama ketika saya melihat Pak Oga. Allah sedang menyuruh saya bersyukur.. betapa hidup yang Allah beri penuh nikmat.. betapa kita perlu menghargai, menghormati orang-orang yang kurang beruntung di sekitar kita. Dari segi finansial, mereka memang kurang beruntung. Tetapi dari segi moral, apakah kita pikir mereka juga kurang beruntung? Saya rasa tidak. Allah memberi kelapangan hati.. Allah memberi mereka rasa ikhlas. Rela berpanas-panas ria demi membantu orang lain. Tidak dibayar. Ya, mereka adalah termasuk golongan orang-orang yang kaya hati. Lalu kita? Bukankah kaya hati lebih baik daripada kaya harta? Tetapi ada pilihan yang jauh lebih baik lagi. Kaya Hati + Kaya Harta. Setuju kan, sahabat? Bukankah islam tidak pernah menyuruh kita untuk bermalas-malasan? Berputus asa? Bukankah ada pepatah islam: Man Jadda Wajada yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil? Bukankah menuntut ilmu dalam islam adalah wajib hukumnya? Tentu maksud dari ‘ilmu’ itu luas sekali. Tak hanya sebatas ilmu akademik, melainkan ada yang lebih penting, yaitu ilmu agama islam, ilmu akhirat. Selain itu, ilmu ada di mana-mana. Iya, di sekitar kita. Allah hadirkan ilmu di manapun kita berada dan bagaimanapun keadaan kita. Sekarang tinggal kita, apakah mau belajar? Apakah mau memahami ilmu di sekitar? Hmm...Alangkah baiknya kita berupaya keras untuk menghasilkan uang yang banyak untuk diberikan manfaatnya kepada khalayak. Bukankah itu lebih baik? Rasulullah pun begitu. Siapa yang bilang bahwa Rasulullah itu tidak berpunya? SALAH BESAR. Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sungguh kaya raya. Tetapi Beliau sangat tawadhu sekali. Tak pernah sekalipun menampakkan kekayaannya. Dan satu lagi,
Diriwayatkan dari Aisyah RA :
“Sungguh Nabi SAW shalat malam hingga merekah kedua telapak kakinya. Aisyah berkata kepada beliau :”Mengapa engkau melakukan hal ini, wahai Rasulullah, padahal Allah SWT telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”, Beliau menjawab, “Apa aku tidak ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR Bukhari dan Muslim)
Subhanallah.. Sungguh, Rasulullah adalah sebaik-baiknya teladan. Betapa mulianya Beliau. Walau sudah diampuni segala dosanya oleh Allah, tetapi tak menyurutkan upaya keras untuk bersyukur kepada Rabb...
            Dengan hadirnya Pak Oga, kita mampu belajar banyak hal. Tentang kerendahan hati..rasa syukur..usaha keras..dan yang terpenting adalah...letak kebahagiaan bukan pada banyaknya harta yang kita miliki. Melainkan kekayaan hati. Pak Oga..dengan modalmu yang hanya berwujud ikhlas, semoga Allah senantiasa menaungimu dengan keridhoan-Nya... Semoga istiqomah membantu sesama tanpa harap imbalan sedikitpun. Barakallah, Pak Oga. Aamiin.. :) 

Semoga bermanfaat.. :)


-FNK-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar