Pages

Sabtu, 09 Maret 2013

Kehadiran Seseorang



Allah pasti punya misi rahasia ketika Dia mengirimkan seseorang ke kehidupan kita.” – Farah Nadia Karima


            Setiap scene hidup kita, pastilah tak jauh-jauh dari sentuhan tangan orang lain. Mampukah kita hidup seorang diri? Kurasa tidak. Coba kita lihat, sebulir nasi yang kita makan. Apakah kita menanam padinya sendiri? Apakah kita menuainya sendiri? Kurasa juga tidak. Kita membutuhkan petani untuk menanam dan segala prosesnya untuk menjadi beras yang dapat dikonsumsi. Kita saat ini bisa membaca dan menulis pun juga karena bantuan orangtua dan guru. Ya sudah. Kita akan menjadi sangat sombong jika menganggap diri kita mampu melakukan segalanya sendiri.
            Allah hadirkan mereka yang telah mampu membuat kita tumbuh, dengan tak lain supaya kita bersyukur, supaya kita tak angkuh, supaya kita bisa menghargai orang lain. Itulah misi rahasia yang Allah sisipkan. Pandai-pandai kita yang menelaah.
            Kehadiran seseorang pasti bukan kebetulan. Ya. Allah pasti punya misi ketika Dia mengirimkan seseorang ke kehidupan kita. Kita tidak tahu, seseorang itu akan membuat dampak apa bagi kita. Bisa baik, bisa buruk. Tergantung cara pandang hati kita. Dan seseorang yang Allah kirimkan itu, bisa siapa saja. Tidak melihat tua, muda, miskin, atau kaya. Random saja. Kehadiran seseorang juga tidak dapat kita duga-duga. Bisa datang kapanpun, sesuai yang Allah suka.
            Pernahkah kita merasa terjatuh? Bukan. Bukan terjatuh dari sepeda atau pohon. Hehehe. Tetapi terpuruk hingga kita tak mempunyai daya dan upaya untuk bangkit kembali. Pernahkah? Pasti kemudian orangtua datang, merengkuh.. Sahabat tak lupa untuk datang menghibur. Sadar atau tidak, mereka adalah orang-orang yang Allah kirimkan kepada kita untuk bangkit kembali. Untuk lebih semangat menjalani hari-hari. Untuk menyadarkan kita, bahwa kita tak pernah sendiri..
            Pernahkah kita menyombongkan diri? Atau merasa ‘terangkat’ ketika orang lain memuji kehebatan kita? Mungkin kita tidak merasa sedang sombong. Tetapi sombong layaknya rasa cinta… menyelusup halus ke dalam hati kita. Jika kita tak cepat menyadari, kita akan semakin terlena. Saat itu juga, seringkali kita ditegur orang lain karena ulah kita sendiri. Ya itu tadi, sombong. Mungkin orang itu tidak nyaman dengan sikap kita yang secara tidak sadar sedang menyombongkan diri sehingga dia merasa mempunyai kewajiban untuk menegur. Yang seperti itu Allah kirimkan, tentu bukan tanpa maksud. Allah sedang memperingatkan kita melalui manusia. Tetapi, ketika yang hatinya tidak lapang, ‘sentilan’ itu justru akan ‘menjatuhkan’ kita. Menodai hati kita… Pasang selalu “kacamata positif” supaya kita mempu menjadikan kehadiran seseorang itu menjadi sesuatu yang membaikkan.
            Memang, Kehadiran seseorang tidak selalu berawal dari kata-kata dan perilaku uang manis. Justru yang berawal menyakitkan itu akan menguatkan. Mungkin bagi kita, teguran dari orang lain itu adalah hal yang menyebalkan. Siapa sih, orang kok suka ngatur-ngatur. BIasanya begitu, semoga kita tidak… Padahal, Allah Maha Mengetahui, teguran itu dapat membaikkan kita.. Perhatikan bunyi ayat ini:

“.. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.  (QS. al-Baqarah [2]: 216)

Yang berawal manis pun juga tidak selalu melenakan. Jadikan perkataan manis itu sebagai cambuk pembuktian untuk dapat memberikan yang lebih baik lagi. Tergantung kondisi hati kita. Apakah akan terlena pada puja-puji manusia? Atau beri ia pembuktian yang lebih? Apakah kita akan tersinggung ketika kita ditegur seseorang? Walaupun itu benar? Atau akan bangkin dengan terus memperbaiki diri? Semua itu pilihan. Pilihlah yang terbaik.
            Sekali lagi, Allah hadirkan seseorang dalam setiap sesi kehidupan selalu mempunyai misi untuk kita. Kita juga harus pandai-pandai menelaah kehadiran Allah melalui manusia. Jadi, manis atau tidaknya pertemuan kita dengan seseorang, pasti ada “sesuatu” yang dapat membaikkan kita. Percayalah… :)
***
            My experience… Semoga dapat diambil hikmahnya. :)
            Singkat cerita.
            Allah hadirkan ke kehidupanku seorang laki-laki di masa lalu. Sewaktu aku masih SMP. Ia yang menghiasi hari-hariku. Ya, sebut saja pacaran. Namanya masih remaja. Labil. Dulu belum tahu apa-apa tentang cinta. (Jangan ditiru ya……)
Orangtuanya merupakan muslim yang taat beragama. Keduanya berprofesi sebagai dokter. Subhanallah… sudah taat beragama, dokter pula. Itu yang aku kagumi dari orangtuanya. Dari didikan orangtuanya pun, dia menjadi lelaki yang baik, yang cukup sering sholat berjamaah di masjid. Walau terkadang, dia nakal juga. Hehehe. Maklum, remaja labil.
Dari situlah aku mendapat banyak hal. Banyak pelajaran. Aku terinspirasi oleh orangtuanya yang taat beribadah… Aku yang semula tidak berhijab, kemudian mulai berhijab. Aku juga terinspirasi untuk menjadi dokter. Memang, dokter adalah cita-citaku sejak kecil. Tetapi dengan nyata menguat sejak aku mengenalnya. Semakin mantap langkahku untuk menjadi dokter.  Semakin lama aku bersamanya… semakin terasa ‘rasa’ yang menggetarkan hati. Semakin lama itu pula, aku mempelajari banyak hal. Banyak sekali. Hobinya adalah membaca. Tanpa disadari, akupun menjadi suka membaca, hingga saat ini, membaca adalah kegiatan yang paling aku sukai. Semakin ke sini, banyak masalah di antara kita. Agustus tahun 2011. Dia memutuskan untuk ‘udahan’. Yang namanya wanita, awal-awal pasti masih sedih. Masih kebayang-bayang. (Astaghfirullah… Betapa dangkalnya ilmuku saat itu.) Setelah itu pun, kita masih berhubungan baik. Malah sempat dekat lagi.
Tetapi semakin lama… aku semakin menyadari. Cinta yang belum halal itu sangat amat tidak dianjurkan dalam islam. Dengan pelajaran-pelajaran yang kuperoleh dari dia dahulu, tak kuhilangkan. Justru semakin kukembangkan. Semakin menguat. Caraku berhijab, kusempurnakan. Ilmu agamaku, kuperdalam. Hobi membacaku tak pernah hilang. Semakin bersemangat menjadi dokter. Semakin gencar mencari motivasi-motivasi islam dari inspirator-inspirator super. Hingga saat ini aku berprinsip, “Single sampai halal.” :’)
Semua ini telah diatur oleh Allah Subhanu Wa Ta’ala. Sedetail-detailnya. Aku merenung… menelaah setiap kejadian di masa lalu. Aku sangat amat menyadari. Allah simpan misi besar itu melalui dirinya. Melalui seseorang yang tak pernah kuduga kehadirannya dulu. Walaupun , berawal dengan sebuah status pacaran… Tetapi itulah jalanku.  Itulah jalan menuju Farah yang sekarang.
Beberapa waktu lalu, aku membaca artikel dari inspirator Febrianti Almeera, yang berjudul “Aku Ujian Bagimu, Kamu Ujian Bagiku”. Aku mendapati kalimat yang sesuai untukku saat ini…

Saya menyesal telah melanggar ketentuan Allah, tapi juga bersyukur pernah mengalaminya. Sebab sekarang saya tau bagaimana rasa sakitnya, maka sulit rasanya bagi saya untuk mengulang kembali kesalahan tersebut. Jangan pernah coba-coba mengizinkan cinta sebelum datang kepastian halal. Ini bukan teori, sebab saya sudah praktek langsung. Saat ini saya masih belum pulih betul, masih sering tersedu. Tapi lebih banyak tersedu malu pada Allah. Sungguh saya bersyukur atas ampunan Allah yang amat luas. Meski tertatih, kini saya kembali mendekat pada-Nya. Semoga bisa jadi pembelajaran bagi kita semua..”

Saya menyesal telah melanggar ketentuan Allah, tapi juga bersyukur pernah mengalaminya…. :’)

Cara penyampaian Allah itu berbeda-beda. Dan yang pasti, semua itu insya Allah akan berujung yang membaikkan. Dan dalam kahidupanku, Allah sengaja kirimkan ‘dia’, untuk membentuk Farah yang sekarang.
Terima kasih atas nikmat-Mu yang sungguh… priceless  ini ya Allah…. Terima kasih… Terima kasih… :’)


Ahad, 10 Maret 2013

Farah Nadia Karima


           
           
           
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar