Pages

Rabu, 11 Desember 2013

#FocusToAllah [1]



#FocusToAllah [1]

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
       Setelah sekian lama cerita tentang konsep #FocusToAllah tersimpan rapih di dalam hati, akhirnya mampu kutumpahkan juga, atas se-izin-Nya. #FocusToAllah adalah konsep yang pertama dan paling utama dalam Komunitas #GreatMuslimahID yang diprakarsai oleh Teh Febrianti Almeera atau akrab disapa Teh Pepew (@pewski).
            #FocusToAllah ini untuk pertama kalinya mengakar di dalam hati saat perjalanan pulang usai mengikuti Training Muslimah Hijrah selama dua hari di Bandung bulan April lalu. Training Muslimah Hijrah ini diadakan oleh #GreatMuslimahID dengan Team yang luar biasa..*salut :’)
Saya mendapatkan info itu dari berbagai macam media. Dari akun twitter Teh Pepew sendiri, dari blog Beliau ( FebriantiAlmeera.com ), dan dari buku yang Beliau tulis sendiri. Saya sadar sekali, jarak Boyolali-Bandung itu bisa dibilang jauh. Naik kereta, bisa menempuh perjalanan kurang lebih 9-10 jam. Dengan berbekal ridho orangtua, entah kenapa jarak Boyolali-Bandung terasa menjadi sangat dekat. Hati ini ringan sekali untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tidak ingin sendirian, saya mengajak satu sahabat, Afifah, untuk mengikuti #TMH di Bandung. Alhamdulillah, dia diizinkan juga oleh ibunya. Semakin yakin hati ini untuk datang, saat tiba-tiba ada DM masuk di akun twitterku. Ternyata Teh Ecy dari Jakarta menawarkan ikut mendaftar di rombongannya, supaya dapat diskon. Hehe.  Alhamdulillah... Proses menuju kesana selalu dimudahkan Allah. Dan itu menjadi salah satu prestasi dalam hidupku, yaitu... anak kelas 2 SMA, pergi ke Bandung, hanya berdua saja, naik kereta, tak kenal siapa-siapa, dan tak paham bagaimana Kota Bandung. Satu lagi... saya sengaja membawa fotokopian kecil dari Buku Biologi lalu saya sempatkan belajar barang sebentar, karena hari senin, ada ulangan biologi. :’) Bagi orang lain mungkin hal itu biasa, tapi tidak bagiku. Saya paham betul, Allah yang mampukan. Tanpa-Nya, takkan mampu kulangkahkan kaki menuju Ranah Bandung. Allahu Akbar. :’)
Ya, tepatnya tanggal 6-7 April 2013 lalu. Memang, kejadian ini sudah lama dan baru sempat kutuangkan sekarang. Tapi insyaAllah, hikmah didalamnya takkan lekang oleh waktu. :’)
Setelah tiket acara sudah digenggaman kami, kita berangkat dari stasiun balapan solo Hari Jum’at malam (5/4/13) dan sampai di Bandung keesokan harinya pukul 03.30. Koordinasi dengan panitia #TMH, ternyata baru bisa dibantu diantar ke pondokan pukul 06.00. Alhasil, kita menunggu di Masjid Daarut Tauhid dulu. Subhanallah...senang sekali rasanya bisa mendatangi, sholat, dan mendengarkan ceramah shubuh di masjid ini. Biasanya hanya dengar lewat TV/radio, eh saat itu bisa live dengar ceramah. Walaupun bukan Aa Gym yang memberi tausiyah (karena sedang umroh saat itu), tetapi tak mengapa. Yang penting kan ilmunya. Sampai-sampai netes nih air mata kita di sana. Haruuu banget rasanya. :’)
            Sebelum pukul 06.00, salah satu panitia datang menjemput kami. Namanya Teh Fifi Lutfiah Hayati. Cantik deh orangnya, ramah dan pula. Senang rasanya, Teh Fifi sekarang semakin berprestasi. Beliau baru saja bekerjasama dengan Teh Meyda Sefira dalam buku Teh Meyda yang baru. Teh Fifi sebagai penyanyi dalam  song book tersebut. Subhanallah...oke lanjut yah ceritanya.
            Sampai di pondokan yang terletak di kompleks Daarut Tauhid, kita hanya beristirahat sebentar, lalu pukul 07.00 berangkatlah ke Lokasi, Hotel Banana Inn Bandung, ditemani dengan rintikan hujan. J
            Singkat cerita, selama dua hari itu kami full diberi materi yang bukan hanya materi biasa. Materi yang penuh hikmah. Tentang Life Triangle: Focus to Allah, Focus to Me, and Focus to the others. Focus to Allah adalah ketika setiap kejadian yang terjadi, entah manis atau pahit, selalu dikaitkan dengan Allah. Apa ya hikmahnya ya Allah..Apa kaitannya dengan Engkau ya Allah.. Selalu begitu jika orang berfokus hanya pada Allah. Tidak ada sedih, kecewa, takut. Karena ia yakin, Allah punya maksud indah dari setiap kejadian yang terjadi. Yang kedua Focus to Me. Maksudnya adalah kita tahu kita itu siapa. Apa passion kita. Passion itu bukan tentang bakat tetapi tentang hasrat. Kita akan fokus memaksimalkan potensi yang Allah beri. Yang ketiga, Focus to the others. Setelah menemukan passion, akan lebih indah jika potensi yang kita miliki, kita bagi dengan orang lain. Dengan begitu, kita akan menjadi pribadi yang bermanfaat.
Juga tahap-tahap untuk berhijrah, kita diberi pemahaman secara detail. Sangat detail. Yang bisa dibaca, dipahami, dan dihayati di buku karya Teh Pepew sendiri: Be A Great Muslimah. Terlalu panjang jika saya jabarkan di sini. Hehe.
Kegiatan Training Muslimah Hijrah ini diakhiri dengan penulisan MIMPI di sebuah kain panjang yang diberikan oleh panitia. Kita diwajibkan menulis apa mimpi kita di sana. Setelah ditulis, kita ikat kain itu di kepala, bak pahlawan. Ini bikin nangis, serius... Karena mimpi inilah yang menjadi kendaraan kita menuju tempat tinggal yang paling indah. Jannah. :’)
Dan inilah yang saya tulis... :’)


Dokter Inspirator. Aamiin.. :’) 

Sembari menanti sertifikat jadi, sholat ashar dulu-lah kita. Tak menunggu terlalu lama, sertifikat itu sudah berada di tangan. Alhamdulillah.. :’)




 Sekitar pukul 16.30 (Minggu 7/4/13), kita pulang dari pondokan dengan ditemani teman baru. Namanya Teh Hani dari Bandung tapi asli cirebon, Kak Hanifah, dan adiknya dari Jakarta. Teh Hani yang lebih tahu daerah Bandung, mengantar kami membeli buah tangan terlebih dahulu. Baru setelah itu saya, Afifah, Kak Hanifah berangkat ke stasiun. Karena kebetulan sekali, eh bukan kebetulan, Kak Hani juga akan pergi ke stasiun yang sama, saya putuskanlah ikut mereka naik angkot menuju ke stasiun. Sebelumnya, Afifah menyarankan saya untuk naik taksi saja. Tapi, saya menolak dengan alasan menambah pengalaman baru dengan teman baru. Ya sudah, saya dan Afifah percaya saja dengan Kak Hani yang sedikit tahu tentang Bandung. Berangkatlah kita dengan angkot. Disinilah iman kita benar-benar diuji. Kenapa? Yuk lanjut dulu.. J
Kita bilang ke pak sopir angkot mau ke stasiun Bandung. Ya sudah, kita ikutin aja tuh angkot jalannya kemana. Sepuluh menit...lima belas menit...setengah jam. Belum sampai! Padahal sewaktu berangkat, cepat sekali rasanya sampai ke daerah pondokan kita, ke daarut tauhid. Afifah sangat khawatir. Berkali-kali dia tanya saya, ini sampai manaaa? Ini sampai manaaa? Kok lama bangeeet? Memang, sejak dari Boyolali dia takut jika tertinggal oleh kereta. Saya tenangkan dia, Iya, paling sebentar lagi. Ternyata ketakutannya semakin menjadi-jadi. Saya beranikan bertanya ke penumpang sebelah saya. “Mas, stasiun bandung masih jauh ya?” Si mas-mas menjawab, “Masih jauh banget, turun sini aja mbak, nanti naik taksi.” Kira-kira begitu obrolan kami. Rupanya si mas-mas paham dengan ekspresi kekhawatiran kami. Kelabakanlah kita berempat, satu angkot jadi heboh gara-gara kita. “Paaaak berhenti di sini!” Tidak peduli bayarnya berapa, yang penting kita turun. Oke, mungkin itu karena kesalahan kita yang tidak jelas dalam menyebutkan tujuan. Kita berjalan, berlari, dengan tas besar di tangan kami, rintikan hujanpun kami terobos tak peduli. Saya beranikan diri bertanya dengan Bapak-bapak tukang nasi goreng. “Pak, mau tanya, taksi di sini di mana ya?”. Bapak itu seperti tidak menganggap kehadiran saya. Dijawablah sekenanya, “Di sini nggak ada taksi.” Astaghfirullah..sabar..sabar.. Banyak saya lihat angkot sliweran di jalanan, tetapi sayang, ada tanda merah di atas taksi yang artinya ada penumpangnya. Tidak menyerah sampai di situ, saya mencoba menghubungi panitia #TMH untuk meminta bantuan karena sudah hampir pukul 18.00 sedangkan kita masih lontang-lantung di jalanan. Tetapi Allah tidak diizinkan saya menghubungi panitia. HP saya yang layar sentuh, error ketika akan mengetik nama salah satu panitia, karena rintikan hujan jatuh di layar hp saya. Ya Allah..saat itu Afifah seperti marah kepada saya, karena saya yang mengajaknya naik angkot. Saya ditinggal jauh di belakang, sementara ia sudah jauh di depan. Saya tahu, dia sangat panik, khawatir, takut, sehingga terkesan marah saat berbicara. Saya pasrah, pasrah. Betul-betul pasrah. Saya tak tahu harus bagaimana lagi. Saya sudah membayangkan jika kami tertinggal kereta dan.... ah. Saya sudah pasrah. Saya menangis sembari terus berjalan. Saya tak peduli orang-orang melihat saya dengan tentengan tas besar sambil sesenggukan nangis di jalanan. Saya lalu ingat materi yang baru saja saya dapatkan. Fokus to Allah! Iya! Bahwa pertolongan Allah itu sangat dekat! Aku percaya! Aku percaya! Saya berdoa dalam hati, “Laa haula wa laa quwwata illa billah...Tiada daya dan upaya melainkan dari-Mu ya Allah..” teruuuuus begitu saya ucapkan sepanjang jalan. Sambil menangis. Baru saat itulah saya benar-benar merasa percaya sekali dengan Allah. Jujur, tidak ada rasa takut di dalam hati saya. Saya menangis karena saya yakin bahwa Allah itu Maha Baik, bahwa pertolongan Allah itu sangaaat amat dekat. Hingga suatu keajaiban itu datang... baru beberapa menit setelah saya pasrahkan seluruhnya ke Allah, dan pasti juga karena doa dari Afifah, Kak Hanifah, dan adiknya, terlihat dari seberang jalan, ada taksi dengan...tidak berlampu merah! Artinya tidak ada penumpang. Allahu akbar! Dan Maha Suci Allah, rambu-rambu lalu lintas yang mengapit jalan raya itu menunjukkan warna merah! Langsunglah kami berhamburan lari menyebrang jalan raya dan masuk ke dalam taksi. Saya lihat jam di HP, pukul 18.00 lebih. Alhamdulillah.. Lagi-lagi, jalanan ke stasiun lancar maju jaya. Sama sekali nggak macet. Campur tangan Allah... :’)
Sesempainya di stasiun, saya dan Afifah berpamitan dengan Kak  Hanifah dan adiknya. Lalu masuklah kita ke kereta. Pukul 18.30 kita sudah berada di kereta. Jauh lebih baik dari perkiraan. Dilanjutkan dengan sholat maghrib di dalam kereta dengan air mata yang bercucuran. Usai sholat maghrib kami saling bermaaf-maafan atas sikap yang kurang enak. Alhamdulillah semua baik-baik saja. :)
Tetapi saya masih saja menangis jika mengingat kejadian yang tadi. Bukan..bukan karena takut atau apa. Tetapi karena mengagumi kebaikan-Nya yang luar biasa! Sungguh, Allah memang Maha Tahu. Allah itu Maha Baik betulan. Allah menguji iman kita. Seberapa jauh kita percaya pada-Nya. Allah menguji apakah ilmu di #TMH tadi bermanfaat? Allahu akbar.. Manis sekali ujian ini. Manis sekali saat konsep Focus to Allah sudah ada di hati. Tidak pernah khawatir dengan apapun yang terjadi. Cukup yakin dan percaya bahwa pertolongan Allah sangat amat dekat. Jauuuuh lebih dekat dari apa yang kita perkirakan. Jauh setelah kejadian itu terjadi, dan setelah mendapatkan ilmu tongkat musa dari teh pepew, saya kilas balik kisah ini. Oh ya..ternyata saya pernah di posisi Nabi Musa. Fir’aunnya waktu. Iya, dikejar-kejar waktu. Lautnya adalah jalanan yang nggak tahu itu jalan apa, di mana. Tongkatnya sangat sederhana. Hanya berdoa, yakin, dan terus berjalan. Allahu akbar. :’)
Allah beri kami perlajaran berharga. Sangat berharga. Semenjak itu, konsep #FocusToAllah insyaAllah selalu menjadi bekal dalam menjalani hari-hari dan menjadi bekal sebelum melangkah ke next concept. #FocusToAllah, Fokus dalam mengharap keridhoan-Nya dan selalu mengaitkan apapun kejadian pahit maupun manis dengan Yang Maha Memberi kejadian.

Perjalanan untuk belajar menjadi Great Muslimah belum berakhir. Bahkan takkan pernah berakhir.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.. :)

Salaam, Farah Nadia Karima.

                 
Dipeluk Teh Pepew. Semoga ilmu-ilmunya nular ya, teh..aamiin

Dari kiri: Afifah, Teh Devi (sahabatnya teh pepew), Teh Pepew, Saya.
Dari kiri: Kak Hanifah, Afifah, saya, Teh Hani. :)

With one of my bestfriends, Afifah.

                    

Sabtu, 26 Oktober 2013

Aku Menyayangimu Dengan Caraku


Eits..jangan salah tangkap dulu ya dengan judul ini. Hihi. Bukan, bukan tentang pacar, gebetan, atau apalah.
Begini judul lebih lengkapnya “Aku Menyayangimu Dengan Caraku, Adikku.” Loh kenapa tidak ditulis itu saja? Aku pikir, judulnya tanpa diberi ‘Adikku’ akan lebih menarik orang yang sekilas baca judul ini untuk jadi kepo. Duh...padahal aku juga tidak tau apakah ada yang membuka postingan ini atau tidak. But, keep writing. Aku hanya ingin menulis. Berbagi.
Tidak genap satu tahun lagi, aku sudah akan memasuki dunia per-kuliah-an. Tentu akan jauh lebih sibuk ketimbang masa-masa SMA ini. Aku memikirkan satu hal. Adikku. Anas. Laki-laki nyebelin tapi ngangenin yang sekarang duduk di bangku kelas 5 SD. Selama ini hubungan kita cukup harmonis. Walaupun sering terjadi pertikaian kecil. Aku cukup sering memarahinya. Aku cukup sering membuatnya menangis. Tentu aku punya alasan. Aku tak mau membiarkannya tumbuh dengan pribadi yang manja. Jika mama dan kakakku lebih sering memanjakan adikku, berbeda dengan aku dan papaku yang lebih sering ‘bersatu’ untuk membuat adikku menangis. Itu terjadi kalau adikku sedang merengek minta sesuatu tetapi tidak dikabulkan, saat ia tiba-tiba menangis karena tidak bisa mengerjakan sesuatu, atau saat ia dinasihati tetapi ia malah marah dan menangis. Bagiku, jika itu ditanggapi dengan berlebihan yaitu dengan menuruti segala kemauannya, pribadi manja akan melekat pada dirinya. Aku tak mau adik laki-lakiku satu-satunya menjadi anak yang manja. Maka dari itu, aku sering memarahinya...dan tak jarang membuatnya menangis.
Tetapi, semakin aku menyadari waktu yang kian menipis waktuku bisa bersama-sama dengannya, aku menyadari caraku salah. Aku paham adikku adalah tipe yang jika dinasihati harus dengan cara halus. Cara baik-baik. Dengan cara itu, akan lebih mudah masuk ke dalam dirinya. Walaupun...terkadang masih saja aku memarahinya. Ada rasa sesal, sedih, melihat dan mendengar adikku menangis. Hatiku merasa sakit. Betul-betul sakit. Untuk menebus kesalahanku, biasanya setelah beberapa jam mereda, kubelikan dia makanan atau minuman kesukaannya. Untuk memulihkan mental. Seketika hatiku sangat lega melihat dia tersenyum, tertawa kembali.
Aku memang bukan tipe kakak yang suka membelikan apa-apa untuk adiknya. Jadi sangat jarang aku membelikannya makanan, barang, mainan, atau apalah. Mungkin untuk sebagian orang, memberikan barang adalah sebagai tanda cinta.
Pernah jika ada waktu longgar, aku disuruh menjemput adikku di sekolah. Dan aku paling takut jika aku menjemput adikku terlambat. Kenapa? Karena adikku pernah menangis karena terlalu lama menunggu jemputan. Makanya sebisa mungkin ketika aku menjemput, sebelum dia keluar, aku sudah ada di sana. Pernah satu kali, aku menjemputnya terlambat. Satpam bilang kalau adikku, Anas, sudah pulang naik angkot. Aku khawatir. Aku sengaja ikuti jalur yang dilewati angkot. Cukup jauh, tapi tak apa, aku ingin menemukan adikku. Dan ternyata...aku dan adikku bertemu di gapura mau masuk rumah. Padahal aku yang nyari sampai muter-muter. Melelahkan, tetapi membahagiakan. Ini caraku menyayangimu, Adikku..
Aku tak tahu apakah tak genap satu tahun ini akan menjadi masa yang aku merasa paling dekat denganmu. Belum lagi, lulus SD nanti, kau akan disekolahkan di pondok oleh papa. Asrama. Akan semakin berkurang intensitas kita bersama-sama, sayang.. tapi papa lakukan itu, aku tau, tidak lain untuk membuatmu menjadi laki-laki hebat, laki-laki mandiri.
Memang benar, jika kita menyadari waktu yang tersisa tinggal sedikit, kita akan lakukan yang terbaik. Seperti halnya hidup.
Adikku, akan kugunakan waktu-waktu emas ini untuk menyayangimu sepenuh hati. Untuk menjagamu... Adikku, maafkan aku jika selama ini aku sering membuatmu menangis. Tak lain karena aku sangat sayang padamu. Semoga...kelak jika kau sudah tumbuh dewasa, kau akan membaca tulisan ini, dan mengerti bahwa kakakmu sangat menyayangimu, sampai kapanpun. I Love You, Anas...


Sabtu, 12 Oktober 2013

Masalah Membuatku Mengerti

Aku yakin. Aku, kamu, dia, mereka, tak jarang kedatangan sebuah masalah. Atau malah banyak buah. Dan aku paham sekali bahwa cover dari sebuah masalah itu sangat tidak mengenakkan. Ia adalah sesuatu yang tak pernah kita harapkan. Kebanyakan respon pertama kita saat mendapat masalah adalah mengeluh.
 "IH, Allah nggak adil. Masa begini? Masa begitu?"
 "Ah, masalah lagi! Kapan sih bisa hidup tenang tanpa masalah gitu?"
 Semoga kita bukan termasuk golongan manusia yang mudah mengeluh seperti itu. aamiin. Kawan, bukankah Allah menghadirkan suatu masalah dengan membawa suatu misi indah? Kau tak percaya? Misi indah dari Allah hanya dapat kita temukan jika kita melepas kacamata negatif kita menjadi kacamata positif. Kita harus mengupayakan membuang segala tetekbengek yang melemahkan diri.    

Beberapa bulan yang lalu, sebuah kado indah Dari Allah datang spesial untuk keluargaku. Ia berwujud 'masalah'. Begitu teramat lelah sehabis 3 hari 2 malam melakukan aktivitas semacam jambore. Tidur pun tak sampai 3 jam selama 2 malam itu. Tujuan pertamaku saat kaki menapaki lantai rumah adalah istirahat. Tidur. Hanya itu yang ada di pikiranku saat berada di sana. Tetapi keinginanku tak dapat terwujud. Belum juga aku meletakkan tubuh barang sejenak, berita mengejutkan ITU menyambar telingaku. Menusuk hatiku. Tak hanya menusuk, tetapi MENGHANCURKAN. Aku menangis. Lupa akan segala kelelahan yang menggerogoti. Yang hanya ada dipikiranku saat itu hanya mereka. Papa. Mama. Jika perasaanku saja betapa hancurnya, apalagi mereka?? Ya Allah...

Baru kali itu aku melihat wanita yang kesehariannya selalu penuh dengan keceriaan meneteskan bulir-bulir air mata. Taukah kalian? Itu 1000000x lebih menyakitkan ketimbang dia yang sedang putus cinta. Lelaki yang terkadang marah saat anaknya berkelakuan kelewatan, Kali itu Beliau tenang. Tetapi kemudian Beliau keluar. Aku paham sekali, meski tak nampak kemarahan di raut wajahnya, hatinya sangat amat hancur berantakan. Remuk. Itu semua amat sangat menyakitkan bagiku.

"Farah, selama ini kamu udah cukup bikin papa mama bangga. Tapi kamu pasti bisa buktikan untuk lebih bikin bangga papa mama.. Kamu harapan papa mama..." Air Mata sama sekali tak mampu kubendung. saat itu aku menyadari...betapa aku mencintai mereka. Sudah terlalu sering aku menyakiti hati mereka. Betapa hinanya diriku. Menyakiti wali Allah di dunia.

Masalah itu membuatku lebih mengerti arti hidup. Ridho-Nya berada pada ridho mereka. Ketika mereka ridho...mudah bagi Allah untuk memberi segenap pertolongan pada setiap langkah kaki kita. Semenjak itu... aku lebih terbuka terhadap mereka. Ridho mereka selalu kukejar demi mendapat ridho-Nya. Aktivitas apapun selalu kumeminta izin pada mama dan papa. Aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri untuk tidak mengecewakan mereka. Untuk membahagiakan mereka. Sekuat tenagaku. Semampuku. Atas izin Allah...

 Ya Allah...semoga Engkau ridho terhadapku. Terhadap apa yang aku upayakan. Semoga Engkau izinkan hamba mengemban amanah sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran..tahun depan. Ini impianku, impian papa, impian mama.. I wish I can make them proud. And because of it..I hope I get Your ridho. Aamiin..

Kawan, masalah jangan membuat dirimu lemah. Bangkit. Allah sedang ingin mengangkat derajatmu. Tidak ada masalah yang tak menguatkan. Begitu kata guru saya. Febrianti Almeera. :)

Tetap semangat menjalani labirin kehidupan karena Allah semata. Man Jadda Wajada. Allahu Akbar! :D

Selasa, 18 Juni 2013

Pak Oga: Bermodal Ikhlas

Bismillah..
Pak Oga: Bermodal Ikhlas
            Saudara-saudara-ku, taukah Anda dengan ‘Pak Oga’? Jujur, saya dulu tidak paham ketika Ayah dan Ibu saya menyebut-nyebut ‘Pak Oga’ ketika melintasi perempatan jalan dan melihat ada seorang bapak-bapak yang semprat-semprit berupaya mengatur lalu lintas. Aduh..polos ya saya. Hehe :3 Ternyata Pak Oga itu adalah seseorang yang stay di perempatan atau pertigaan jalan untuk membantu arus lalu lintas supaya tertib dan teratur. Biasanya Bapak-bapak, bukan mas-mas. Kalo mas-mas nanti jadi Mas Oga. Hehe.. Tetapi sampai saat ini saya belum begitu paham kenapa disebut dengan Pak ‘Oga’.. Yang membuat saya berdecak kagum, mereka tidak ada yang meng-gaji. Berbeda dengan satpam yang pasti digaji, atau tukang parkir yang pasti akan dibayar oleh setiap pengendara yang parkir. Tetapi Pak Oga tidak.. Hanya beberapa pengendara saja yang bersedia membuka jendela mobil, mengulurkan tangan dan memberi beberapa lembar uang.. Belum lagi jika pengendara sepeda motor. Kebanyakan dari mereka belum peduli dengan kehadiran Pak Oga di tengah-tengah mereka. Padahal jasa Pak Oga itu luar biasa.. Di tengah terik panas matahari, mereka berjuang menahan panas demi membuat pengendara motor maupun mobil dapat berkendara dengan nyaman.. terlihat dari pancaran mata mereka bahwa semangat itu masih menyala-menyala. Walaupun saya paham, hasil yang mereka peroleh kurang dari cukup.. Subhanallah.. Tetapi itulah arti kata ‘Ikhlas’ ketika hasil adalah peringkat ke sekian, yang penting bermanfaat bagi sesama. Itu yang saya tangkap. Subhanallah..kita yang masih muda, belum tentu mempunyai pemikiran yang sama seperti Pak Oga. Padahal generasi muda adalah tonggak untuk generasi mendatang. Jika generasi muda yang sekarang mudah mengeluh, melakukan sesuatu dengan pamrih, mau jadi apa?
            Allah menghadirkan segala sesuatu pasti punya maksud. Sama ketika saya melihat Pak Oga. Allah sedang menyuruh saya bersyukur.. betapa hidup yang Allah beri penuh nikmat.. betapa kita perlu menghargai, menghormati orang-orang yang kurang beruntung di sekitar kita. Dari segi finansial, mereka memang kurang beruntung. Tetapi dari segi moral, apakah kita pikir mereka juga kurang beruntung? Saya rasa tidak. Allah memberi kelapangan hati.. Allah memberi mereka rasa ikhlas. Rela berpanas-panas ria demi membantu orang lain. Tidak dibayar. Ya, mereka adalah termasuk golongan orang-orang yang kaya hati. Lalu kita? Bukankah kaya hati lebih baik daripada kaya harta? Tetapi ada pilihan yang jauh lebih baik lagi. Kaya Hati + Kaya Harta. Setuju kan, sahabat? Bukankah islam tidak pernah menyuruh kita untuk bermalas-malasan? Berputus asa? Bukankah ada pepatah islam: Man Jadda Wajada yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil? Bukankah menuntut ilmu dalam islam adalah wajib hukumnya? Tentu maksud dari ‘ilmu’ itu luas sekali. Tak hanya sebatas ilmu akademik, melainkan ada yang lebih penting, yaitu ilmu agama islam, ilmu akhirat. Selain itu, ilmu ada di mana-mana. Iya, di sekitar kita. Allah hadirkan ilmu di manapun kita berada dan bagaimanapun keadaan kita. Sekarang tinggal kita, apakah mau belajar? Apakah mau memahami ilmu di sekitar? Hmm...Alangkah baiknya kita berupaya keras untuk menghasilkan uang yang banyak untuk diberikan manfaatnya kepada khalayak. Bukankah itu lebih baik? Rasulullah pun begitu. Siapa yang bilang bahwa Rasulullah itu tidak berpunya? SALAH BESAR. Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sungguh kaya raya. Tetapi Beliau sangat tawadhu sekali. Tak pernah sekalipun menampakkan kekayaannya. Dan satu lagi,
Diriwayatkan dari Aisyah RA :
“Sungguh Nabi SAW shalat malam hingga merekah kedua telapak kakinya. Aisyah berkata kepada beliau :”Mengapa engkau melakukan hal ini, wahai Rasulullah, padahal Allah SWT telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”, Beliau menjawab, “Apa aku tidak ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR Bukhari dan Muslim)
Subhanallah.. Sungguh, Rasulullah adalah sebaik-baiknya teladan. Betapa mulianya Beliau. Walau sudah diampuni segala dosanya oleh Allah, tetapi tak menyurutkan upaya keras untuk bersyukur kepada Rabb...
            Dengan hadirnya Pak Oga, kita mampu belajar banyak hal. Tentang kerendahan hati..rasa syukur..usaha keras..dan yang terpenting adalah...letak kebahagiaan bukan pada banyaknya harta yang kita miliki. Melainkan kekayaan hati. Pak Oga..dengan modalmu yang hanya berwujud ikhlas, semoga Allah senantiasa menaungimu dengan keridhoan-Nya... Semoga istiqomah membantu sesama tanpa harap imbalan sedikitpun. Barakallah, Pak Oga. Aamiin.. :) 

Semoga bermanfaat.. :)


-FNK-

Sabtu, 01 Juni 2013

Masa Lalu-lah yang Membentuk Kita

Malam ini...kegiatan saya adalah berselancar di dunia maya. Mencari-cari informasi tentang Universitas di Indonesia dengan jurusan yang saya inginkan. Tetapi masa pencarian saya itu berhenti saat saya tergelitik membuka sebuah blog/website seseorang yang isinya itu begitu menggugah hati.  Rasa rindu akan menulis itu kini tak dapat tertahankan... Oke..oke.. Sudahin saja basa-basinya. :Dv

Assalamu’alaykum saudariku.. Semoga selalu dalam lindungan Allah. Aamiin. ;))

Saudariku.. Setujukah dengan kalimat ini,”Masa lalu itu nggak penting. Udah, lupain aja! Yang penting kan sekarang.”? Kalau ada seseorang yang berkata seperti itu d hadapan saya, saya akan menjadi orang pertama yang menyanggahnya. Kenapa? Let’s start...

“The Past is Create Us.” – Farah Nadia Karima

            Banyak kita temukan di luar sana, orang-orang sukses bertebaran.  Dan saya yakin bahwa kesuksesan yang mereka raih itu tidak instan belaka. Banyak prosesi kehidupan yang dilaluinya. Pahit manis berulang kali menempa kehidupannya. Tetapi justru itulah cara Allah memberi pelajaran hebat. Untuk menjadi bekal menjalani kehidupan selanjutnya. Untuk tidak mengalami kesalahan yang sama di masa lalu.Dan dari ‘menengok ke belakang’ untuk belajar, mereka mampu meraih kesuksesan dirinya yang sekarang.
            Contoh saja, inspirator saya...Teh Pepew. Atau dikenal dengan Febrianti Almeera. Beliau sudah berani mengambil tantangan&resiko yang besar di usia Beliau yang masih muda. Dan pada umur 19 tahun Beliau sudah terjerat hutang sekian ratus juta yang tak seharusnya ditanggung seorang yang masih sangat belia. Dengan mengambil ibrah dari kejadian itu...Teh Pepew menyimpulkan bahwa untuk melakukan suatu usaha jangan pakai uang hasil hutang. Hidupnya tidak tenang...penagih hutang terus terbayang-bayang...
Teh Pepew tidak melupakan masa lalunya karena dari sanalah Beliau belajar dan jadilah Teh Pepew yang sekarang dikenal sebagai seorang inspirator. Subhanallaah...
            Sebenarnya banyak sekali kisah-kisah Tokoh Besar yang berhasil menangkap ibrah yang Allah selipkan di kejadian di masa lalu.
            Dalam sisi kehidupan saya...saya temukan banyak sekali ibrah yang Allah selip-selipkan. :’) Seperti yang sudah saya ceritakan di posting sebelum-sebelumnya... sungguh, tak akan pernah saya lupakan seseorang yang Allah kirimkan ke kehidupan saya beberapa tahun yang lalu. Seseorang yang menjadi salah satu wasilahku untuk lebih mendekat kepada-NYA... Semuanya datang atas izin Allah. Termasuk perjalanan hijrah saya. Ia hanya sebagai wasilah saja. Tidak lebih. Selebihnya Allah-lah yang berkuasa. Dan saya bersyukur sekali atas itu... Kejadian-kejadian yang tak sesuai syariat di masa lalu lah yang membuat kepahaman tersendiri untuk saya sekarang. Dari sana saya belajar. Dan dari sana pula saya menjadi lebih mengerti dan paham tindakan apa yang harus saya lakukan sekarang. Berjalan, berlari mengejar ridho-Nya... Sesungguhnya Allah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh bertaubat. :’)
            Siapa diri kita sekarang juga bergantung dari ‘masa lalu’. Apakah kita termasuk manusia yang pandai mengambil hikmah-hikmah yang bertebaran? Apakah kita termasuk orang yang pandai bangkit dari kegagalan? Bisa jadi kita menjadi manusia yang lemah & kurang beruntung karena kita tak pernah menyadari ‘kode-kode’ yang Allah berikan dalam rangka mengubah diri kita. Bisa jadi kita menjadi manusia yang baik & sukses karena kepandaian kita dalam belajar dari masa lalu.
           Ada satu hal penting yang hampir saja tidak masuk dalam postingan ini..
         Jangan sampai ketika kita sudah sukses suatu saat nanti, kita melupakan Yang Maha Pemberi Kesuksesan, dan orang-orang yang sangat berpengaruh dalam menyokong kesuksesan kita.. Seperti penjaga sekolah/kampus yang senantiasa membukakan pintu lebih awal. Tukang pel yang selalu siap membuat lantai indah dipandang mata.. Saudara-saudara kita yang rela membantu kita mencari relation-relation di Universitas/Kantor supaya kita dimudahkan. dan yang paling utama....orangtua yang kasih sayang dan pengorbanannya tak terbayarkan bahkan kita telah sukses sekalipun. :')
           Semoga kerendahan hati senantiasa menyelimuti. Semoga kita menjadi manusia yang pandai belajar dari kesalahan. Semoga kita menjadi manusia yang pandai memetik hikmah dari setiap kejadian. Dan semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada kita semua, karena sebaik-baiknya hidup ialah yang senantiasa mendapat petunjuk dari Allah SWT. Aamiin Yaa Rabb..

Semoga bermanfaat, sahabat...

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh. J

Minggu, 31 Maret 2013

Golden Chance



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillaahirrahmaanirrahiim... Semoga #GoldenChance berikut bermanfaat, khususnya untuk jiwa-jiwa yang sedang patah. ^^

“Putus cinta  bukan merupakan musibah, melainkan sebuah berkah.” – Farah Nadia Karima

Apakah ada yang bertanya-tanya maksud dari quote di atas?
A: Lho putus kok berkah, masalah iya.
B: Idih, baru tau ada yang bilang kalo putus itu berkah. Bikin sengsara iya.
C: Berkah dari mananya? Liat nih mata udah kayak panda nggak tidur seminggu.

Wajar jika ada yang beranggapan seperti itu. Tetapi insya Allah muslimah yang membaca postingan ini adalah muslimah yang tangguh, yang nggak lembek hanya karena putus cinta. Iya kan, dear? :) Maksud dari quote di atas akan dibahas habis dalam postingan “Golden Chance” kali ini. Jeng-jeng jeeeeng... ♥

***

Golden Chance? Semacam Mario Teguh Golden Ways? Bukan. Bukan. Jangan salah tafsir. Ini murni bukan kata-katanya Mario Teguh.
Golden Chance. Golden = emas, Chance = kesempatan. Yup! “Kesempatan emas”! Saya menyebutnya #GoldenChance lebih ke keadaan di mana kita sedang putus cinta. Lebih spesifik untuk muslimah. Tahu maksudnya? Pernah merasakan putus cinta, dear? Ya sebut saja putus dari pacaran. Pernah? Saya pernah. Dan inilah sebab saya mampu membagikannya ke teman-teman. Untuk yang belum pernah pacaran, berterima kasihlah pada Allah yang telah menjaga kesucian hati teman-teman semua. :)
Ketika kita sedang mengalami putus cinta, apa yang kita lakukan? Menangis satu malam suntuk? Menyalahkan si doi dan juga menyalahkan keadaan? Yakin itulah cara yang tepat menyikapi rasa sedih sebab putus cinta? Di minggu-minggu pertama putus cinta -sebut saja fase awal- akan dihiasi kesedihan yang tumpah ruah, air mata yang bergelimang tak kunjung reda. Kenapa? Kenapa kesedihan yang berlebihan itu dapat terjadi? Tak lain kita hanya stuck pada, “Aku nggak mau kehilangan dia.” Kalimat ini yang membuat hati kita lemah. Yang membuat kita enggan berpindah ke tempat yang lebih tinggi. Kita selalu memikirkan bagaimana cara untuk dapat bersamanya kembali (re: balikan). Kita enggan mencari cara untuk keluar dari tali kesedihan yang menjerat kita itu. Wajar memang bagi seorang wanita yang sedang jatuh cinta lalu hatinya dipatahkan begitu saja oleh lelaki yang tak bertanggungjawab menangis berhari-hari, bagaikan dunia ini sudah tak ada setitik cahaya yang mampu menerangi dunianya. Ketika keadaan kita seperti itu, maukah hati kita berkhusnudzon? Kebanyakan tidak. Justru semakin menyalahkan dia & keadaan. Tetapi setelah beberapa minggu kemudian, saya yakin satu paket kesdihan dan air mata itu semakin menjauh dari diri kita. Walaupun bayang-bayang dirinya masih berlalu-lalang dalam benak kita. Sulit. Sulit sekali rasanya untuk sekedar move on dari ‘rasa’ itu.
Sekali saja, biarkan hati dan otak berpikir jernih. Biarkan mereka menelaah setiap masalah yang datang menghampiri. Jangan menjadi penghalang bagi kebaikan diri kita sendiri. Ketika hati dan otak sudah menemukan satu titik kebaikan Allah, biarkan ia bebas berpetualang mengarungi kuasa Ilahi.
Percayakah bahwa setiap kejadian yang kita alami Allah sedang menggerakkan kita ke satu muara, satu tujuan? Saya percaya itu. Daun yang jatuh berguguran saja sudah Allah catat dengan baik di kitab Lauh Mahfudz.
Sadarkah bahwa Allah membawa misi baik-Nya ketika Dia memberi masalah kepada kita? Tak luput juga masalah putus cinta. Tetapi, sadarkah apa sebenarnya misi Allah memberikan masalah 'putus cinta' kepada kita? Ya, memang. Di fase awal, hati dan otak kita seperti dibekukan oleh rasa cinta yang berlebihan. Enggan menerima nasihat-nasihat dan pemikiran yang baik. Yang ada hanya, “Pingin balikan”, “Belum sanggup menjalani hari tanpa dia” dan alasan-alasan tak berlogika lainnya. Padahal PUTUS CINTA MERUPAKAN ALLAH’S BIG SIGN. Kita telah DIKODE BESAR OLEH ALLAH! :)
Tanda maupun kode dari Allah itu pasti bersifat membaikkan. Allah sedang menyuruh kita ber-muhasabbah; introspeksi diri. Bukan malah menyalahkan si dia-nya lebih-lebih menyalahkan keadaan yang berujung menyalahkan Allah. Naudzubillah... Jangan menyalahkan takdir-Nya ya, dear.
Allah sedang tersenyum saat melihat kita menangis tersedu-sedu. Karena Dia lebih tahu dari hamba-Nya mana yang terbaik. Dan sadar atau tidak sadar, ketika kita putus cinta, kita sedang diberi kesempatan emas oleh Allah! Kesempatan yang sangaaaaaaaaat berharga. Kesempatan yang terlalu indah jika disia-siakan. Allah punya misi sangat baik sebenarnya. Kita diminta untuk sadar. Sadar untuk kemudian menjaga hati dari yg bukan mahram. Jangan move on ya, move on = pindah. Yes, just move to other boy. Sama aja bohong dong? Sama aja kita menyia-nyiakan kesempatan emas yang Allah berikan. Padahal saat kita putus cinta, kesempatan emas itu sedang terbukaaaaaaa lebar. Teringat nasihat seorang inspirator (@pewski), “Sejauh apapun melangkah, kembalilah pada Allah.” Allah itu Mahabaik. Allah sudah meng-kode kita saat kita sudah melangkah terlalu jauh dalan hubungan yang tidak diridhai Allah. Terkadang kita sendiri yang menutup hati dan pikiran kita. Astaghfirullah...
Nah... Dalam ksempatan emas inilah kita dapat memulai memantaskan diri sebaik-baiknya! :D Ingat perlu diingat, memantaskan drii bukan supaya dapat jodoh yang baik, tetapi kita harus senantiasa meluruskan niat “Mengharap ridho Allah SWT” karena dengan keridho-an-Nya rezeki lancar, jodoh yang shalih/shalihah itu bonus bagi kita. Kita juga mempunyai kesempatan untuk mengikis dosa yang telah kita perbuat akibat jalinan cinta yang belum halal dan kemudian tidak mengulanginya lagi. Kita bebas melakukan kebaikan tanpa ternodai nafsu kepada lain jenis yang bukan mahram. Indah bukan? :)
Kita dapat berkarya sehebat mungkin! Tanpa ada seseorang yang menghambat (re: pacar). Terkadang ia membatas-batasi gerak-gerik kita. Melarang ini itu. Padahal apa yang kata lakukan itu mampu meningkatkan kualitas diri. Maha Besar Allah yang telah membebaskan kita dari penghambat diri kita itu...
Kita dapat melakukan kebaikan sebanyak mungkin tanpa ternodai hubungan yang tidak ada dalam islam (re: pacaran). Bebas mengikuti komunitas ini itu. Pokoknya bebaaaaaas melebarkan sayap mengarungi kuasa Allah Subhanu Wa Ta’Ala.. Saya merasa itulah misi yang Allah selipkan dalam sesuatu yang semula kita anggap sebagai musibah, bukan berkah. Bahkan masih banyak lagi hal-hal yang membaikkan setelah kita putus cinta yang tak dapat saya jelaskan satu persatu...
Remember, NOT ONLY MOVE ON, BUT MOVE UP! Allah tidak menyuruh kita berganti pasangan lagi, melainkan untuk BANGKIT. Menapaki tangga yang lebih tinggi. Menjadi muslimah yang tangguh! Bukan yang gampang luluh. Menjadi muslimah yang lebih baik! Yang senantiasa mendekatkan diri pada Sang Maha Penggenggam hati manusia. Jadilah muslimah yang peka terhadap kode-kode yang Allah berikan melalui masalah yang sebenarnya membaikkan, memberi penguatan. Jangan sampai menutup mata dan hati. Jangan sampai kesempatan emas itu terlewat sia-sia.Misi Allah yang satu ini sungguh indah sekali. Dia menyelamatkan kita dari dosa karena hubungan yang tak diridhoi-Nya. Bersyukurlah bagi kita yg sedang atau sudah mengalami putus cinta. Gunakan Golden Chance ini sebaik-baiknya! Selagi masih hidup. Bagi yang belum pernah mengalami putus cinta, bukan berarti dapat berleha-leha. Terus memantaskan diri bersama muslimah-muslimah yang sedang tertatih dalam pemantasan mengharap ridho-Nya..
Ketika sudah mendapat Golden Chance, jaga hati. Jangan sampai kembali pada hubungan yang merugikan kita; pacaran. Istiqomahkan hati, supaya terus bergerak, melangkah, di jalan Allah. Sekali lagi,

“Putus cinta  bukan merupakan musibah, melainkan sebuah berkah.” – Farah Nadia Karima


Alhamdulillaahirabbil’aalamiin...
Semoga bermanfaat. ♥


Senin, 1 April 2013.
Farah Nadia Karima


Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh