Pages

Kamis, 27 Desember 2012

FF: "Ibu: Bidadari Surgaku"

Assalamu'alaikum
Jadi begini, malam ini saya mencoba mengikuti sebuah tantangan bertajuk #FF2in1-nya @nulisbuku dengan tema yang pertama lagu A Song for Mama. Waktunya cuma setengah jam. Karena saya stuck di suatu ide... jadinya Flash Fictionnya nggak bisa jadi di deadline yang dikasih. yaudah gapapa, aku tetep nglanjutin FF-ku ini. Semoga bermanfaat ya.... :)

                                                         IBU: Bidadari Surgaku

Qira terkulai lemas. Ia menangis di sudut kegelapan. Hanya rintihan tangis terdengar melalui sayup-sayup angin malam. Ketakutan luar biasa mendekap erat jiwanya. Ada suatu beban yang tak mampu ia luapkan begitu saja. Ia mengeluarkan sebuah note kecil dari saku rok ungunya. Kemudian Qira mulai menuliskan sesuatu…

Allah… dekap aku sejenak saja. Tiada daya dan upaya yang mampu kulakukan saat ini. Hanya sebuah penyesalan yang tak berunjung… Aku tak mampu menghadapinya sendirian… Aku takut! Aku takut Allah!

Bulir air mata menetes menghiasi note kecil itu. Qira tak peduli jika tinta hitam yang ia tuliskan memudar sedikit demi sedikit. Tangisnya semakin menjadi-jadi ketika bayangan kejadian kemarin menguasai benaknya kembali. Kerudung yang ia kenakan selama ini terasa menjadi sangat tak berarti.

Ibu… di manakah engkau? Sungguh kuingin berteduh di dalam dekapanmu…

Allah selalu mendengar hamba-Nya yang memohon dengan segenap hati…
Sebuah ketukan cukup keras terdengar di pintu kamar Qira…
“Qira, bukalah pintunya, nak.”
Qira tahu, ibunya sedang tersenyum lembut ketika memintanya untuk membukakan pintu.
Sembari mengusap air matanya, Qira berjalan lunglai menuju daun pintu. Seketika itu juga ia dekap erat tubuh bidadari surganya. Erat sekali. Ia tak menghiraukan nafasnya yang kadang tersengal saking erat dekapannya. Yang Qira tahu ia ingin menumpahkan semuanya. Menuangkan seluruh air matanya di bahu ibunya. Sebuah kesejukan yang selama ini ia cari.

“Ceritalah, Qira. Ibu tahu dari tatapan matamu. Semenjak kemarin kau lebih sering bungkam. Menyendiri. Sebenarnya ada apa, Ira? Ibu siap mendengarkan semuanya…”
Suara lembut ibu menggetarkan jiwa Qira. Tangisnya semakin tak terbendung saja. Perlahan, ia melepaskan dekapannya lalu mengandeng ibunya menuju ke tempat tidur Hello Kitty-nya. Ia bertekad menceritakan semuanya meski akan sangat memilukan. Setelah segenap kekuatan telah ia kumpulkan, ia memulai menceritakan semuanya…

Semua dimulai ketika sore itu Qira berkunjung ke rumah kekasihnya, Rama. Ya, hubungannya dengan Rama memang sudah mendapat lampu hijau dari orangtua Rama. Kunjungannya sore itu tak mempunyai tujuan yang berarti. Hanya sekedar bermain-main saja. Setengah jam kemudian, orang tua Rama pamit kepada mereka berdua untuk menghadiri suatu acara. Awalnya memang berjalan wajar, tetapi perasaan Qira menjadi tak enak ketika Rama mengajaknya masuk ke dalam rumah. Qira bersikeras menolak ajakan Rama itu. Tetapi kemudian Rama menenangkan Qira dengan memberikannya segelas minuman yang terlihat seperti air putih biasa. Qira yang polos tak mengerti bahwa minuman itu adalah minuman yang memabukkan. Ketika badan Qira sudah lunglai, pandangannya sudah kabur tak jelas, Rama memapah tubuh Qira masuk ke dalam kamarnya. Di saat itulah semua kepedihan berawal… Ketika kehormatan Qira sudah terampas oleh seorang lelaki tak bertanggung jawab.

Ibu menutup matanya ketika Qira menjelaskan dengan detail tanpa ada yang disembunyikan. Bulit air mata menetes tanpa ia minta. Qira yang berada di sebelahnya mendekap ibunya kembali. Seperti memberi kekuatan padahal ia sendiri tak memiliki kekuatan sedikitpun. Menghadapi kenyataan sepahit itu, Ibu tersenyum walau air mata terus mengaliri pipinya yang semakin berkeriput.

“Ibu… maafkan Qira… Sungguh, Qira tak mengerti apa-apa…”
Dengan bibir bergetar, ibu berkata dengan senyum yang teramat indah…
“Ibu tak menyalahkanmu, nak… Ibu tahu, kau tidak mungkin mau melakukannya… Tetapi laki-laki itulah yang membawamu ke dalam perbuatan itu…”
“Ibu… ibu… tak marah?”
“Kenapa marah, nak? Kemarin biarlah menjadi guru yang bijak. Ambil saja apa hikmah dari semuanya… Allah pasti mempunyai maksud dan tujuan yang baik dari setiap kejadian… Berhijrahlah, Qira… Perbaiki apa yang harus kamu perbaiki saat ini… Kau tahu, nak? Ampunan Allah tak mampu dilukiskan jika hanya seluas samudera…”
Kini ibu membelai rambutku, tulus sekali….
“Qira, pantaskanlah dirimu sebaik mungkin hingga nanti Allah temukan kau pendamping yang siap mengajakmu menaiki tangga menuju surga… bukan tangga kemaksiatan… Yakinlah nak, wanita yang baik adalah untuk laki-laku yang baik pula…”
Kalimat itu sungguh menggetarkan batin Qira. Ia tak berkata apapun. Ia memejamkan matanya. Menenggalamkan hatinya di dalam kalimat-kalimat yang ibunya berikan… 
Allah pasti mempunyai maksud dan tujuan yang baik dari setiap kejadian… Berhijrahlah, Qira… Perbaiki apa yang harus kamu perbaiki saat ini… Kau tahu, nak? Ampunan Allah tak mampu dilukiskan jika hanya seluas samudera…
Yakinlah nak, wanita yang baik adalah untuk laki-laku yang baik pula…

Qira melepas dekapannya, mengusap air matanya dengan tegas lalu berkata,
“Ibu, sungguh. Qira akan berhijrah. Qira akan mengubur dalam-dalam kejadian pahit yang berlangsung tanpa Qira inginkan. Qira hanya akan mengambil pelajarannya saja. Saat ini, hanya ibu yang ada di pikiran Qira. Selama ini, Qira hanya mengecewakan Ibu saja. Tetapi mulain sekarang, Qira berjanji akan membahagiakn ibu dengan menjadi anak shalihah… Serta Qira akan senantiasa memantaskan diri untuk Pangeran Surgaku suatu saat nanti. Qira sanggup menantinya dalam taat. Karena wanita yang baik adalah untuk laki-laku yang baik pula
Qira tersenyum. Tak ada beban lagi di dalam hatinya. Menguap sudah semuanya. Begitupun dengan Ibu Qira. Air mata mengalir kembali di pipinya. Bukan. Bukan lagi air mata kekecewaan. Melainkan air mata bahagia…
“Ibu, Sungguh, Engkau adalah bidadari surgaku dan Qira mencintai Ibu karena Allah………”

You were there for me to love and care for me
When skies were grey
Whenever I was down
You were always there to comfort me
And no one else can be what you have been to me
You will always be you always will be the girl
In my life for all times



Farah Nadia Karima.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar