Pages

Sabtu, 10 November 2012

Hari Pahlawan: Ketika Seorang Guru Mengubah Jalan Pikiranku

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa? Seringkali kita mendengarkan kalimat itu. Tak usah kita mencarinya hingga meloncat ke zaman dahulu kala mengenai pahlawan-pahlwan nasional. Cukup kita sadari bahwa pahlawan tanpa tanda saja ada di sekitar kita. Guru. Ya. Guru-guru kita. Izinkan jemariku berkisah... mengungkapkan...

Suatu sore... ketika gerimis itu mengguyur Kota Susu, pahlawan itu datang. Membawa sejuta ilmu untuk diberikannya padaku dan teman-teman lain. Sore itu aku ada les matematika. Iya, matematika. Mata pelajaran menyeramkan bagi sebagian orang. Mungkin karena mereka sudah menutup mata dan hati terlebih dahulu sebelum mengenal matematika. Sama sepertiku. Dulu. Sampai pada hari itu. Saat aku les matematika. Saat aku membuka buku les, Beliau berkata "Nduk, gimana mau bisa matematika kalau catatan saja berantakan seperti itu? Coret-coretan di sini, jawaban di sini, bagaimana mau bisa?" Jleb. Kata-kata itu sungguh mengena di hatiku.

Entah kenapa, esok-esok hari setelahnya, tanpa kusadari aku semakin rapi dalam mencatat pelajaran matematika. Tidak-ada coret-coretan di sana sini. Semuanya rapi, bersih, runtut... Jauh sangat rapi dibandingkan sebelumnya. Dan perasaanku terhadap matematika... aku menyukainya. Wow.  Menyukai matematika? Tak pernah terpikirkan sebelumnya. Tetapi Beliau Pak Guru Matematika, mengajarkankanku secara tidak langsung untuk menyukai matematika dan tidak pernah merasa terbebani oleh matematika.

Mungkin sebagian orang ada yang menyukai matematika karena memang dia suka dan tidak ada perantara yang membuatnya suka. Tetapi tidak untukku. Aku baru menyukainya sejak seragamku biru-putih. Aku baru mengenalnya melalui Pak Guru matematika SMP-ku. Karena tanpa beliau mungkin saat ini aku sudah tak ingin menyentuh angka-angka abstrak yang hanya mencari x, y, z, logaritma, persamaan lingkaran, trigonometri yang --bagi tidak menyukainya-- akan terasa sangat membosankan. Proses menyukainya tak cukup hanya 1-2 hari saja. Sampai saat ini aku terbilang cukup bisa matematika adalah proses yang cukup lama pula. Dan itulah sebuah proses. Aku sangat menyukai, menikmati, dan menghargai sebuah proses dalam suatu kehidupan. Ada pula yang memang sudah sejak lahir pintar matematika atau apalah. Tetapi mungkin mereka tak pernah merasakan susahnya menyukai matematika dan tak pernah bisa merasakan bahagia ketika bisa menjawab 1 soal matematika. :)

"Aku memang belum pintar matematika, tetapi aku menyukainya dan selalu berusaha untuk mampu menaklukan setiap soalnya."

Terima kasih Pak Kusnan, Guru Matematika kesayanganku sepanjang masa... :')
 

Ah Pak Kusnan, aku rindu "tulisan indah"mu yang sengaja dibuat tidak indah agar murid-muridmu mau berpikir. Aku rindu ketika Engkau mampu memposisikan diri sebagai seorang sahabat untuk setiap murid-muridmu. Aku rindu pula ketika Engkau mengusap kepalaku. Aku rindu saat Engkau menegurku karena kekurang-telitianku.Aku rindu canda tawa ketika bersamamu. Aku rindu ketika aku berkunjung ke SMP untuk menanyakan sebuah soal yang sebenarnya mudah dan Engkau berkata,"Oalah nduk, soale gampange koyo ngene. Padune kangen to..." Haha. Pak Kusnan selalu tau isi hatiku. Tetapi sebagai seorang wanita aku tetap mengelaknya walaupun hati berkata iya.Sampai sekarang aku berseragam abu-putih, sampai nanti mahasiswa, sampai nanti aku sudah berkeluarga, Engkau akan tetap terkenang di dalam lubuk hati paling dalam, Pak....:')


Dengan embun di sudut mata, Farah Nadia Karima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar