Pages

Sabtu, 03 November 2012

Cerpen: Siapakah Senjaku?


Rumah  kosong.  Ya… sudah tak heran lagi. Semenjak pindah ke Ibukota dua tahun yang lalu, ayah dan ibu lebih sering pulang larut malam. Tak begitu kuhiraukan keadaan rumah yang sunyi senyap. Tanpa ba-bi-bu lagi kurebahkan tubuhku membentuk pesawat terbang di kasur tercinta. Lelah hati lelah pikiran setelah seharian berjibaku dengan guru-guru yang… ergh… killer. Belum lagi buku-buku yang super duper tebalnya. Kulihat jam tangan yang masih melekat di tangan kananku dengan malas. Oh ternyata sudah senja… hei, sudah kelewat senja malah! Aku bergegas berlari terbirit-birit menuju teras depan rumah kecilku. Celingak celinguk. Melihat sana melihat sini. Di atas meja kosong. Di bawah kursi juga tak ada apa-apa. Kecewa. Kenapa tak ada apapun? Kuseret langkahku gontai kembali ke kamar. Membersihkan diri. Menanti senja tergantikan oleh malam.
            Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ayah, Ibu? Kenapa kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan kalian? Tidakkah kalian merasakan sepi seperti yang Qila rasakan? Tubuhku sudah seperti daun yang berguguran di jalanan. Lemas. Entah, malam ini aku sungguh tak bersemangat. Menyentuh novel-novel kesayanganku saja malas sekali. Terlebih buku pelajaran yang… ergh
            Malam ini aku hanya duduk melamun di dekat jendela. Memandang langit malam yang cerah. Bintang-bintang dan bulan yang tak pernah lelah memancarkan keindahannya. Sepoi-sepoi angin yang tanpa malu-malu membelai lembut kerudung putihku. Aku memang sengaja membuka jendela lebar-lebar. Menikmati pesona indah malam hari. Aku tersenyum simpul. Refleks. Mengingat seseorang… ah. Seseorang yang mengenalkanku pada indah malam. Sudah sudah. Segera kuhapus bayang-bayang itu. Aku tak mau mengingat apa yang tak sepantasnya kuingat lagi.
            Aku tak peduli ayah dan ibu sudah pulang atau belum. Yang kuketahui sekarang hanyalah… mataku sudah tak mampu terjaga lagi.

***
            Segenap semangat telah kukumpulkan untuk hari ini. Menghadapi jam-jam seperti penjara yang selalu memaksaku membaca buku pelajaran dan mengerjakan soal-soal yang kalau ditotal jumlahnya bisa mencapai ratusan. Yah… beginilah nasib seorang pelajar kelas 3 SMA. Hadapi dan nikmati saja.
            Sehari pun cepat sekali berlalu.
Senja sudah mulai datang rupanya. Siluet jingga sudah menghiasi langit. Tak lama lagi langkahku akan sampai di rerumpun halaman rumah. Ah, ini senja! Kulangkahkan kaki lebih cepat lagi. Berhenti di teras rumah. Dan... Ada! secarik kertas putih sederhana itu ada! Refleks. Aku tersenyum. Inilah yang akhir-akhir ini membuatku semakin rindu bertemu senja. Surat kecil sederhana. Putih polos. Tapi entah kenapa aku suka sekali dengan kata-kata yang ada di dalamnya. Ini sudah surat ke-3 setelah kemarin surat itu meliburkan diri. Kubuka pelan pelan… pelan sekali.


    Kaulah yang selalu mewarnai senjaku
               Jingga seolah menjadi merah, kuning, hijau, biru
                         Seperti pelangi yang ada dimatamu
                         Selalu membuatku semakin merindu                                                  
                Aku tersenyum simpul. Meski aku tak tau siapa pengirimnya, surat ini cukup membuatku senang. Membuat pipiku merah merona. Siapa ya? Hmm… Apakah dia? Ya dia.  Seseorang yang selalu mengajarkanku tentang keindahan. Keindahan senja dan malam. Yang membuatku mencintai siluet jingga ketika senja datang dan binar indah bintang bulan ketika senja sudah tergantikan oleh malam. Tapi, setahuku tak banyak yang mengetahui alamat rumahku yang baru. Teman-teman sekolah pun hanya beberapa saja yang aku beritahu. Ah tidak mungkin. Aku juga tak ingin berharap terlalu tinggi kepada orang yang jelas-jelas telah mengukir luka di hatiku. Sudahlah, surat-surat ini cukup menjadi koleksiku saja.
***
                Hari ke hari... Senja ke senja. Surat itu semakin rajin menghiasi teras rumah. Tetap putih, polos, dan rangkaian kata. Sesederhana itu. Tapi justru kesederhanaan itulah yang mampu membuatku tersenyum refleks. Tanpa kusadari.
Sampai tiba pada surat yang ke-10. Kubuka. Kali ini dengan tidak sabaran.

                      Qila…
                                 Takkah kau sadari?
                                 Diriku selalu hadir menemani senjamu
                                 Tetapi… percuma.
                                 Kau tak akan mau mengerti lagi


Hei! Ia menyebut namaku! dan kalimat “Kau tak akan mau mengerti lagi” seperti ada sesuatu yang ganjil dalam makna yang tersirat. “Lagi”. Hmm… seperti aku pernah bertemu sebelumnya. Siapa? Siapa sebenarnya? Batinku tak kunjung berhenti bertanya-tanya. Aku tak mampu menahan rasa ingin tahu yang semakin membuncah. Selama ini aku hanya membiarkan surat itu ada. Tanpa ingin tahu siapa yang mengantarnya. Siapa penulis sesungguhnya. Besok. Tepat surat ke-11. Aku harus tahu siapa penulis surat itu.
***
Hari minggu senja. Aku sengaja tak banyak keluar rumah. Melamun menanti sore menjemput senja. Menanti langit dan awan hingga berwarna jingga. Menanti… menanti… penulis surat itu datang. Berkali-kali kutengok jendela terasku. Tak ada… kring! Kring! Aku bergegas keluar rumah.
“Mbak, ada paket buat Pak Darsono.” Kata Pak Pos.
Ergh… ternyata paket buat Ayah. Kecewa berat.
“Oh iya, Pak. Terima kasih banyak.” Aku mengulum senyum. Terpaksa.
Aku kembali lagi ke dalam rumah. Bersenandung kecil... dan… srek…srek… suara apa lagi itu? Pelan-pelan kubuka pintu. dan… APA? Apa mataku salah melihat? Tidak. Tidak. Itu memang lelaki yang sudah tega sekali melukai hatiku dua tahun lalu. Tepat sebelum aku berangkat ke kota yang kuinjakkan sekarang.
“Qila….” Pemuda itu menyapaku lembut. Sangat lembut. Aku tak kuasa menatap matanya. Aku sadar aku sangat ingin melupakannya. Aku sadar aku sangat ingin membencinya. Tapi ada sebulir rindu yang meluluh-lantakkan semuanya. Aku mengusap sudut-sudut mataku. Entah ini perasaan luka yang masih menganga ataukah perasaan rindu yang kian membuncah.
“Kenapa…kenapa kau ada di sini? Apakah kau penulis surat di setiap senjaku?” bibirku bergetar ketika kulontarkan pertanyaan itu. Pemuda itu hanya diam. Tersenyum kecil. Dan mengulurkan sebuah surat yang “sama”. Kali ini agak panjang… dan sepertinya sebuah cerita.

Qila…
Tak bisakah kau beriku satu kesempatan lagi? Seperti senja yang bersedia memberikan waktu untuk malam.
Bukan… bukan seperti yang kau lihat dua tahun lalu. Kau salah… tak pernah hati ini mempunyai ruang baru untuk orang lain. Kau tahu? Ia adalah adikku yang bertahun-tahun merajut ilmu di asrama di kota nun jauh di sana. Wajar… wajar bila kudekap erat adikku satu-satunya. Tepat ketika kau ingin berpamitan denganku. Aku tak dapat mengejarmu. Kau sudah tak terlihat di pelupuk mata.
Selama dua tahun aku mencari-cari di manakah sosok Qila. Aku rindu pelangi di matanya. Hingga akhirnya kumampu mengirim rangkaian kata di setiap senjamu.

Raka.

Ah Raka… Kenapa baru sekarang kau tulis namamu di setiap suratmu? Hanya linangan air mata yang mampu melukiskan isi hatikuAku menatap pemuda di hadapanku. Raka… maafkan aku. Aku menyesal tak mau mendengar penjelasanmu dulu. Hingga selama dua tahun ini… aku membencimu. Yang ternyata adalah sebuah kesalahan besar. Raka tersenyum tulus. Mengangguk kecil. Berkali-kali. Seperti mengerti apa yang ada dalam pikiranku. Dalam hatiku…
            “Aku sekarang di sini. Nyata ada di setiap senjamu. Percayalah…” Raka sekali lagi tersenyum. Tulus sekali…
            Terima kasih, Raka…



Farah Nadia Karima, 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar