Pages

Kamis, 13 Oktober 2011

Cerpen: Tujuhbelas Gezy

   Minggu, 15 Agustus 2011 pukul 00.05 WIB,
            “Selamat Ulang Tahun yang ke-17 Gezy! J” Serangkaian kalimat ucapan ulang tahun di layar ponselku datang silih berganti. Rasa kantuk yang masih bertengger di kepalaku pun tiba-tiba saja hilang seketika. Diganti dengan bunyi keypad handphone-ku yang sibuk dipencet-pencet oleh jemariku untuk sekedar membalas ucapan terima kasih untuk si pengirim. Aku pun segera melanjutkan tidur. Tetapi bunyi getar terus saja terdengar, mengusik ketenanganku saja. 1 message, kuhiraukan. Selang beberapa menit  getar itu semakin bertambah pertanda sms telah bertambah pula. Kali ini aku terpaksa membuka mata lebar-lebar. Sekarang dilayar tertera kalimat 7 messages. Kubuka satu per satu pesan. Semua berisi hal yang sama. Juga kubalas dengan kalimat yang sama pula.
            Sekarang aku sudah 17 tahun, semoga semua berjalan dengan baik dan ayah cepat sembuh, sambungku sambil berdoa dalam hati dan mencoba untuk tidur kembali.
            Pukul 04.30 WIB, aku terbangun dari tidurku, aku pun langsung menunaikan ibadah sholat subuh. Setelah selesai, kulihat layar ponselku kembali apakah tertera pesan dengan nama pengirim Fanny. Kucermati dengan detail, tetapi tetap tak kutemukan namanya. Tepat hari ulang tahunku saat ini adalah 5 tahun kita bersahabat. Tetapi kenapa Fanny sama sekali belum mengucapkan. Padahal di tahun sebelumnya ia selalu menjadi yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun padaku, gumamku dalam hati. Tapi akan tetap kunanti ucapannya untukku.
            Matahari sangat bersahabat sore ini dan karena hari ulang tahunku kali ini bertepatan hari minggu, maka aku mengajak ketiga sahabatku, Fanny, Ave, dan Helvy untuk jalan-jalan di taman yang baru selesai digarap. Ave dan Helvy sudah berhasil kuhubungi. Tetapi ketika aku menelepon Fanny, operatornya malah ngomel-ngomel  padaku. Aduh, kemana sih si Fanny. Terpaksa sore ini hanya aku, Ave dan Helvy yang pergi bersama.
Di taman, kita saling bertukar cerita mengenai ultah ke 17 kami. Kebetulan Ave sudah 5 bulan lalu berulang tahun dan berakhir dengan happy ending karena lelaki yang dikaguminya menyatakan bahwa ia juga mengagumi Ave. Lain lagi dengan Helvy yang  sweet seventeen-nya penuh dengan kejutan lucu. Dan hanya aku yang mempunyai cerita sedih, karena sahabat tersayangku belum mengucapkan selamat padaku. Lebih kecewanya lagi, dia tidak bisa kuhubungi hingga detik ini.
Tak terasa sudah pukul 17.00 WIB, kita segera beranjak pulang. Kita tidak mau jika sampai rumah pada saat maghrib tiba. Ketika sampai di rumah, Ibuku sudah menantiku di sofa merah empukku. Wajahnya tak seceria biasanya. Di tangannya ada sebuah kado mungil terbungkus dengan kertas kado berwarna biru muda, warna kesukaanku. Dari siapa ya? Tanyaku dalam hati. “Gezy, ini ada sebuah kado istimewa untukmu,”kata ibuku. “Dari siapa, Ibu?” Jawabku. “Bukalah dahulu, di dalamnya ada secarik kertas.” Sahut ibu dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Kenapa aneh begini?. Kubuka dengan hati-hati, Ya Allah, inikan buku yang sudah sejak lama kucari, gumamku dalam hati. Tetapi aku segera mengambil dan membaca secarik kertas berwarna putih polos yang terselip di antaranya.

Minggu, 15 Agustus 2011 pukul 00.01 WIB
Happy Birthday Gezy-ku sayang! J Selamat ulang tahun yang ke 17 ya. Semoga Gezy selalu jadi orang yang lebih baik di kemudian hari. Amin. Happy 5th Anniversary juga buat persahabatan kita, Gez. J semoga hati kita terus bersama walaupun ajal akan memisahkan kita. Maaf ya Gez, aku hanya bisa ngasih sebuah buku ini ke kamu, karena aku tahu kamu sangat menginginkan buku ini. Semoga hadiah yang kecil ini dapat membuatmu melonjak-lonjak bahagia ya. Hehe.
Cukup sekian ya Gezy ucapan selamatku.
                                                                                                Sahabatmu tersayang,
                                                                                                         Fanny
                 
                “Gezy, tadi yang mengantar kado ini adalah ibunya Fanny, Tante Eli.” Tak terasa aku menitikkan air mata. Ternyata ucapan yang paling kutunggu-tunggu datang juga. Tetapi kenapa Fanny tak datang ke rumah ini langsung saja ya? Kenapa ada kadonya tetapi tak ada orangnya? Hatiku terus bertanya-tanya. “Nak, Ibu tahu kamu bingung dengan semua ini. Tetapi memang seperti ini kenyataannya.” Kata Ibu yang mengerti kebingunganku. “Ada pa ibu? Ada apa? Kenapa Fanny tak mengantarnya saja langsung kepada Gezy?” desakku menahan tangis terus menerus. “Fa..fann..Fanny..” jawab Ibu terbata-bata. “Fanny kenapa Ibuu?” ada rasa sangat khawatir di hatiku. “Fanny kecelakaan saat perjalanan mengantar kado itu ke rumah ini.. dan Fanny..Fanny nyawanya tak dapat diselamatkan Gezy..” Jawab Ibu dengan mimik wajah sangat sedih. Ibu juga sudah sangat mengenal Fanny semenjak aku bersahabat dengannya. Air mataku mengalir dengan sendirinya, deras, semakin deras. Aku tak dapat berkata apa-apa. Kalimatsemoga hati kita terus bersama walaupun ajal akan memisahkan kita” dalam surat terakhirnya untukku itu ternyata menjadi pertanda bahwa Fanny, sahabatku tersayang, akan meninggalkan dunia ini. Sebagai sahabat yang baik, aku harus merelakan kepergiannya. Walau jasadnya sudah tak terlihat lagi, tetapi segala kebaikan dan kenangan yang ia berikan untukku takkan pernah kulupakan, seumur hidupku. Fanny, aku sayang kamu. Walau dunia kita sudah berbeda, tetapi hati kita tetap satu, hati kita tak akan terpisahkan. Semoga kamu tenang di sisi Allah SWT. Amin.



- Original by: Farah Nadia Karima-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar