Pages

Kamis, 13 Oktober 2011

Cerpen: Kisah Risma

            17 September 2010 pukul 06.40…
            Pagi ini langit terlihat begitu cerah dan hangat. Bersahabat sekali dengan suasana hariku saat ini. Semoga hari ini aku selalu di bawah naungan-Nya. Amin. Setelah kutunaikan sholat dhuha, kubuka diari mungil hijauku. Di sana catatan-catatan berkumpul menjadi satu. Segera kulihat agenda acara untuk hari ini. Tertera kalimat “Halal Bihalal Kampoeng Kautsar pukul 10.00”. Hmm, hampir saja aku melupakan acara yang sangat penting itu. Kampoeng Kautsar adalah nama ekstrakulikuler rohis di SMA-ku dulu. Rasanya aku ingin cepat-cepat bertemu dengan teman-teman kampoeng kautsar.
            Waktupun cepat berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 09.30. Segera kukenakan jilbab dan gamis putihku, hingga rapi baru kuberangkat pergi. Setelah terlihat rapi di kaca, tanpa memikirkan apapun, aku langsung menuju ke tempat acara, yaitu masjid al-kautsar.
            Sesudah aku memarkirkan motor, aku buru-buru pergi ke dalam masjid. Tetapi langkahku terhenti ketika tiba di depan masjid. Suasana 2 tahun yang lalu masih begitu terasa di lubuk hati. Sekelebat kisah-kisah indah nan menyenangkan selama 3 tahun itu hinggap di benakku. Kuhirup nafas dalam-dalam, terbesit senyum kecil di bibirku, lalu kulangkahkan kedua kakiku masuk ke dalam masjid. Alya, Zahara, Aisyah, dan Qonita, sahabat-sahabatku, sudah menungguku di dalam masjid. Mereka melambai dan tersenyum melihat kedatanganku.
            “Assalamu’alaikum semuanya.” kataku mengucapkan salam. “Wa’alaikumsalam, Risma.” Jawab mereka bergantian. Sambil menunggu teman-teman yang lain datang, kami pun bercerita tentang universitas-universitas kami sekarang. Hingga di titik, di mana aku harus mengingat diriku di Kampoeng Kautsar dulu. Kisah yang berawal cukup buruk dan berakhir dengan indah dan manis.
            5 tahun lalu, tahun 2005, ketika aku baru masuk kelas X dan diwajibkan memilih satu ekstrakulikuler. Aku benar-benar bingung ingin memilih ekskul apa. Tapi sedetik saja Zahara terlambat menggangguku, maka ekskul English Club-lah yang sudah kuberi tanda centang di formulir. Hhh… Apa sih Zahara pakai menggangguku segala? Hatiku dongkol sekali saat itu. “Rismaa, ikut kampoeng kautsar aja yuuk! Mau ya? Mau ya?” Rayu Zahara dengan tampang cukup memelas. Ya, kampoeng kautsar saat itu memang lagi jadi primadona di sekolah. Dan Zahara-lah yang paling antusias. Dengan tampang yang tak kalah memelas, aku menjawab,”Nggak ah, nggak mau.” “Yaah Risma gitu. Kan nanti ada aku…” Balas Risma semakin memelas. Berulang kali aku menjawab tidak, tidak, dan TIDAK. Terjadilah perdebatan memelas diantara kami berdua. Pada akhirnya, akulah yang mengalah. Ya, aku ikut kampoeng kautsar.
            Sudah 3 bulan setelah perdebatan memelas itu. Sudah 3  bulan pula aku menghabiskan hari-hariku bersama kampoeng kautsar. Di situlah anak-anak sholeh dan sholehah berkumpul. Di mana aku bertemu Alya, Aisyah, dan Qonita yang kini menjadi sahabatku. Dimana mereka mengharap ridho Allah, keselamatan dunia, dan akhirat. Awalnya memang aku merasa setengah hati ikut di kampoeng kautsar itu, tetapi setelah beberapa bulan aku menjadi anggotanya, aku bisa merasakan perubahan yang luar biasa. Karena kampoeng kautsar-lah yang menjadi awal dimana aku bisa berubah menjadi lebih baik, lebih agamis. Kesetengah-hatianku sudah berubah menjadi sepenuh hati. Tidak ada keraguan di dalam hatiku. Kini aku pun bisa menuai kebaikan dan keindahan setelah bergabung dengan kampoeng kautsar.
            Senyum mengembang di wajah kami, tanda bahagia. Cerita kami pun usai ketika semua teman kampoeng kautsar sudah hadir di masjid al-kautsar. Acara pun segera di mulai. Halal bihalal berjalan sangat hangat dan indah dibalut dengan atmosfir kebersamaan.



-Original by: Farah Nadia Karima-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar